Langsung ke konten utama

Bisnis Oriflame Ribet?

"Mbak ribet nggak sih bisnis Oriflame itu?"

"Enggaklah biasa aja."

Bisnis Oriflame itu sama aja kayak bisnis pada umumnya. Dalam bisnis ada penjualan barang dan jasa. Tidak ada penjualan = tidak ada penghasilan.

Sederhananya di Oriflame itu kita kerjanya mengumpulkan poin.

Sama kayak Gojek atau Grab. Driver akan dapat poin jika mendapatkan pesanan. Sama kayak Oriflame. Dapat poin kalau ada penjualan produk. Enaknya lagi di Oriflame, order buat pakai sendiri pun tetap dapat poin. Kalau gojek atau grab, nggak boleh bikin orderan sendiri, bisa dianggap orderan fiktif dan kemitraan diputuskan.

Kalau di Gojek atau Grab dapat penukaran poin itu insentif. Jadi selain dapat uang dari penumpang, penukaran poin yang dikumpulkan dalam 1 hari bisa jadi uang juga. Sama kayak Oriflame. Cuma batasnya 1 bulan kalau di Oriflame, selama 1 periode katalog, lebih panjang. Terus di Oriflame mengumpulkan poin bisa ramai-ramai. Ada poin pribadi ada poin grup, tida perlu sendirian.

Caranya kita mengajak orang gabung dan saat orang itu jualan kita dapat poin tanpa mengurangi poin pribadi teman yang kita ajak gabung. Jadi win-win. Terus bisa ditukarkan namanya performance discount, sama kayak insentifnya ojek online tadi. Bisa dicek di successplan. Bonus uangnya bervariasi. Jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta. Di luar hadiah smartphone, motor, mobil, umroh, rumah, dan keliling dunia. 🏘🚘🛵🕋

Sampai di sini masih terasa ribet? Kalau bagi saya, cari uang tidak pernah ribet, karena yang ribet itu kalau nggak punya uang. 😂😂😂




Ingat masih ada 3 hari untuk mencapai level Senior Manager dibulan Agustus 2019 supaya nanti September bisa ikutan Umroh VVIP GRATIS atau bisa dijadikan uang tunai puluhan juta rupiah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan