Langsung ke konten utama

Hari Pertama Sekolah TK ABA


View this post on Instagram

A post shared by Raza Damilio (@razadamilio) on


Pernah mengantarkan anak ke sekolah formal pertamanya? Bukan sekolah dasar ya tapi taman kanak-kanak alias TK. Saya sendiri tak ngotot anak harus sekolah TK baru sekolah dasar. Sebab saya dulunya tidak merasakan sekolah TK. Sampai sekarang pun TK bukan pendidikan formal wajib yang harus ditempuh anak. Namun mengapa TK tetap laris dan banyak yang mau menyekolahkan anaknya di usia dini?

Raza sendiri terlihat tidak keberatan karena di sekolahnya banyak mainan. Lalu bagaimana dengan Umak dan Abahnya? Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tak memaksa dia wajib TK. Kalau dia masih ingin main di alamnya sendiri ya tak perlu repot punya sekolah dengan rutinitas yang sama sampai 2 tahun. Saya orang kampung, kenalnya SD soalnya dulu TK yang ada lumayan jauh dari rumah jadi tak ada cerita orang tua saya memasukkan saya di sana. Intinya tak memungkinkan untuk sekolah di taman kanak-kanak yang ada di Sentebang, Jawai. Walaupun saya suka sekali melihat sekolahnya. Banyak mainannya. Itu poin paling penting.

Berbeda dengan suami saya yang akhirnya mendaftarkan dengan mengurus semua kebutuhan Raza untuk masuk sekolah formal pertamanya. Saya bahkan tak tahu nama TK-nya kalau tidak buka Google. Karena itu tadi, saya tak begitu tertarik untuk memasukkannya sekolah. Usia 4 tahun berada di sekolah, bagaimana dia akan berinteraksi dengan orang lain? Itu yang saya bayangkan. Bahkan saya sudah siap kalau dia batal sekolah lalu memilih pulang.

Ternyata pikiran saya salah. Walaupun Raza sepanjang hari pertamanya diam saja dan tak mengikuti arahan untuk bertepuk tangan atau bernyanyi. Ditanya guru namanya siapa, dia tetap tak berbunyi. Itulah dia Raza, tak akan berbicara kalau sedang tidak mood untuk mengucapkan apa-apa. But he is doing great. Tidak tantrum. Tidak menangis. Paling penting tidak minta pulang. Saya berusaha menjaga jarak darinya. Sebab saya tahu nantinya dia akan berada di sekolah lebih lama dan saya tak mungkin menungguinya selama 2 tahun penuh. Rasanya malah saya yang sulit untuk beradaptasi untuk berkenalan dengan orang tua anak lain. Soalnya tak ada yang saya kenal dan agak malu buat kenalan. Saat orang tua lain begerombol di depan pintu kelas, saya memilih duduk di taman bermain. Bukankah kita sendiri yang memilih untuk memasukkan dia ke sekolah ini? Artinya kita siap untuk membiarkan dia menjadi murid. Jangan sampai orang tua ikutan mengganggu proses belajar mengajar bukan?

Sampai selesai, Raza berada di kelas tanpa saya tunggui atau pangku. Itu kelasnya bukan kelas saya. Saya tetap berada di luar dan menunggu. Menunggu jika guru mengalami masalah menghadapi Raza. Lagi-lagi Raza baik-baik saja sampai jam pulang. Sayanya yang parno bukan Raza. Baginya ini tak lebih dari jalan-jalan dan bermain. Cuma ada guru dan Umak di sekolahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan