15 Juli 2019

Hari Pertama Sekolah TK ABA


View this post on Instagram

A post shared by Raza Damilio (@razadamilio) on


Pernah mengantarkan anak ke sekolah formal pertamanya? Bukan sekolah dasar ya tapi taman kanak-kanak alias TK. Saya sendiri tak ngotot anak harus sekolah TK baru sekolah dasar. Sebab saya dulunya tidak merasakan sekolah TK. Sampai sekarang pun TK bukan pendidikan formal wajib yang harus ditempuh anak. Namun mengapa TK tetap laris dan banyak yang mau menyekolahkan anaknya di usia dini?

Raza sendiri terlihat tidak keberatan karena di sekolahnya banyak mainan. Lalu bagaimana dengan Umak dan Abahnya? Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tak memaksa dia wajib TK. Kalau dia masih ingin main di alamnya sendiri ya tak perlu repot punya sekolah dengan rutinitas yang sama sampai 2 tahun. Saya orang kampung, kenalnya SD soalnya dulu TK yang ada lumayan jauh dari rumah jadi tak ada cerita orang tua saya memasukkan saya di sana. Intinya tak memungkinkan untuk sekolah di taman kanak-kanak yang ada di Sentebang, Jawai. Walaupun saya suka sekali melihat sekolahnya. Banyak mainannya. Itu poin paling penting.

Berbeda dengan suami saya yang akhirnya mendaftarkan dengan mengurus semua kebutuhan Raza untuk masuk sekolah formal pertamanya. Saya bahkan tak tahu nama TK-nya kalau tidak buka Google. Karena itu tadi, saya tak begitu tertarik untuk memasukkannya sekolah. Usia 4 tahun berada di sekolah, bagaimana dia akan berinteraksi dengan orang lain? Itu yang saya bayangkan. Bahkan saya sudah siap kalau dia batal sekolah lalu memilih pulang.

Ternyata pikiran saya salah. Walaupun Raza sepanjang hari pertamanya diam saja dan tak mengikuti arahan untuk bertepuk tangan atau bernyanyi. Ditanya guru namanya siapa, dia tetap tak berbunyi. Itulah dia Raza, tak akan berbicara kalau sedang tidak mood untuk mengucapkan apa-apa. But he is doing great. Tidak tantrum. Tidak menangis. Paling penting tidak minta pulang. Saya berusaha menjaga jarak darinya. Sebab saya tahu nantinya dia akan berada di sekolah lebih lama dan saya tak mungkin menungguinya selama 2 tahun penuh. Rasanya malah saya yang sulit untuk beradaptasi untuk berkenalan dengan orang tua anak lain. Soalnya tak ada yang saya kenal dan agak malu buat kenalan. Saat orang tua lain begerombol di depan pintu kelas, saya memilih duduk di taman bermain. Bukankah kita sendiri yang memilih untuk memasukkan dia ke sekolah ini? Artinya kita siap untuk membiarkan dia menjadi murid. Jangan sampai orang tua ikutan mengganggu proses belajar mengajar bukan?

Sampai selesai, Raza berada di kelas tanpa saya tunggui atau pangku. Itu kelasnya bukan kelas saya. Saya tetap berada di luar dan menunggu. Menunggu jika guru mengalami masalah menghadapi Raza. Lagi-lagi Raza baik-baik saja sampai jam pulang. Sayanya yang parno bukan Raza. Baginya ini tak lebih dari jalan-jalan dan bermain. Cuma ada guru dan Umak di sekolahnya.

Related Posts

Hari Pertama Sekolah TK ABA
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).