1 Juli 2019

Clueless Mom


View this post on Instagram

A post shared by Raza Damilio (@razadamilio) on

Raza, anak sulung saya, usianya 4 tahunan dan sudah disunat atau dikhitan. Saya yang mendaftarkannya di sunatan massal. Acaranya di lokasi Gedung Kantor Gubernur. Waktu saya memegangi tangannya banyak yang melirik karena dia masih kecil. Kebanyakan yang ikut sunatan massal memang sudah sekolah SD. Hanya beberapa yang terlihat di bawah usia 6 tahun. Saya pikir tak ada bedanya dia sunat sekarang atau nanti.

Apalagi mengingat waktu bayi, dokter anak malah menyarankan untuk segera mengkhitan Raza, demi kesehatan. Tak perlulah saya ceritakan detailnya ya. Waktu itu dia baru usia beberapa minggu. Saya waktu itu juga mengiyakan sementara suami dan seluruh keluarga besar mengatakan ‘TIDAK’. Kayak mengindikasikan saya ibu yang tega banget sama anak karena mau menyunatnya disaat masih merah.

Satu hal yang saya tahu adalah banyak yang dikhitan saat masih bayi. Tak ada yang salah dengan itu bukan? Itu yang saya tahu, tapi ada yang tidak saya tahu.

Mengenai after effect sunat gengs. Itu saya benar-benar tidak tahu. Sebab saat 2 adik laki-laki saya disunat saya tidak ada di rumah. Saya di Pontianak. Tak memahami bahwa habis disunat itu yang repot. Merawat lukanya. Merawat perban. Belum lagi saat obat penghilang rasa sakit hilang dan sakitnya bekas disunat itu nyeri. Itu yang membuat saya terlihat seperti seorang ibu yang tega membawa anaknya sunatan massal.

Anyway, sudah terlambat untuk menyesal sih. Raza sudah disunat dan untungnya dia hanya menangis 2 jam setelah pulang sunatan. Malamnya sudah oke. Besoknya aman. Hari ketiga malah dia sudah ingin main bola. Saat tulisan ini diterbitkan, Raza sudah benar-benar sembuh dari luka sunatnya. Sudah sekolah TK juga. Saya bayangkan seandainya saya tahu bahwa habis sunat itu sakitnya membuat menggelinjang mungkin saya tidak tega. Namun karena sudah terjadi, sudah selesai baru saya tahu, ya pas membawanya sunat saya malah merasa saya melakukan hal yang harus dilakukan sebagai orang tua.

Jadi sebaiknya sunatnya kapan? Sebaiknya memang saat masih kecil sih, saat dia tak paham arti sunat, sebab repot ceritanya kalau dia tahu dan kabur dari lokasi sunat. Terdengar tega kan? Masalahnya adalah khitan tetap harus dihadapi sampai benar-benar dilakukan. Tak ada pilihan boleh tidak khitan. Mau bayi, mau usia TK, mau usia SD, ya sama saja judulnya, dikhitan. Siapin mental biar tega. Bukan tega sih sebenarnya. Nanti yang menyunatnya juga tenaga medis, jadi yang penting orang tua punya waktu luang paling tidak 3-4 hari untuk mengurus after effect sunat tersebut.

Related Posts

Clueless Mom
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).