Langsung ke konten utama

Mengapa Harus Move On?



A post shared by Komunitas Dare Blogger (@dareblogger) on
Pernah. Saya juga pernah galau. Pernah nangis. Pernah lupa bahwa beras itu mahal. Eh

Jadi kalau di Sambas, biasanya orang Melayu suka mengolok-ngolok orang yang galau karena Ce-i-eN-Te-A itu adalah orang yang belum memahami bahwa harga beras lebih penting dari itu semua. Sebab saat menikah yang dipikirkan berikutnya buat bulan madu melainkan bagaimana kita melanjutkan kehidupan sebagai orang dewasa yang sudah menikah. Putus cinta? Lebih menyakitkan susahnya cari isi ulang gas tabung hijau. Hahaha…

Dulu gampang baper. Sedikit-sedikit emosional pokoknya. Tempat yang menampung itu semua? Twitter. Bahkan pernah dihukum tak bisa update twit gara-gara terlalu cepat ngetwitnya. Ah sudahlah galau, sedang curhat di twitter, kemudian tak bisa melanjutkan curcolnya gara-gara si burung birunya yang balik ngambek. Kebanyakan twit. Spamming.

Move on-lah. Jangan kelamaan galau. Saya juga pernah berada di posisi itu, merasa tak berharga. Tak diinginkan. Menyedihkan. Sampai akhirnya menemukan pelabuhan kehidupan saya selanjutnya. Orang-orang yang akhirnya menjadi keluarga dan paling penting dalam hidup saya. Butuh terlalu lama waktu itu untuk menemukannya. Sampai saya lama galaunya. Di blog ini juga pasti banyak sisa kegalauan saya. Sudah move on sih sekarang. Kalau belum move on cari kesibukan. Saat sibuk biasanya tak sempat lagi mau galau.

Dulu saya sempat galau, tak tahu harga beras mahal, gara-gara kebanyakan waktu sendirian. Akhirnya, ngetwit galau ke galau lagi. Susah move on gara-gara sendirian. Sekarang? Bisa sendirian berjam-jam adalah berkah. Istilahnya me time ya buat emak-emak milenial. Beda sekali dengan jaman dulu. Padahal waktunya sama saja 24 jam. Tapi ada yang bisa menggunakannya hanya untuk galau ada yang bisa menggunakannya untuk lebih banyak menulis atau istirahat.

Bagaimana? Sudah siap move on?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan