25 September 2018

Benikahan

Jika menikah itu seperti salat,
akankah kamu menunggu mukena kesukaanmu kering baru kamu salat
atau menggunakan mukena yang mana saja
asalkan bisa melaksanakan salat tepat pada waktunya? - Andika



Ance', laki-laki yang namanya akan abadi sebagai binti dinamaku sendiri. Laki-laki yang sudah puluhan tahun ini menjadi pendamping hidup Umak. Duduk di kursi kayu yang selalu menjadi kebiasaannya sejak aku masih kecil. Belum ada kopi di atas meja seperti biasanya. Sebab dia duduk di sana bukan sedang ingin minum kopi dengan beberapa potong pisang goreng yang masih hangat. Dia menatapku tajam. Dahiku berkerut. Baru kali ini Ance' memaksakan keinginannya di atas keinginanku. Aku tak menunjukkan persetujuan.

“Pokoknya, Ancek ndak mau tahu!”

Suara keras Ance' membuatku pucat. Umak memecah kebekuan di antara kami berdua dengan meletakkan segelas kopi di meja dekat Ance'.

“Mak...”

Perempuan itu melirikku sebentar kemudian tak menyahut dan kembali beringsut ke dapur. Dia tahu, Ance' tak bisa ditawar-tawar soal ini. Sayangnya ini masalah hidupku. Pernikahanku.

“Resepsinya ikut adat Ance'.”

“Tapi adat Ance' sudah kuno. Sekarang tahun berapa Ce'?”

“Kalau tak ada saprahan, tak ada tarup, Ance' pastikan tak ada pernikahan.”

Laki-laki itu. Keras. Bagai batu. Selama ini tak banyak bicara padaku. Segalanya Umak yang memutuskan. Apabila Umak mengatakan iya, Ance' juga iya. Siang yang panas itu terasa semakin panas. Pernikahanku yang seharusnya bisa berjalan seperti yang aku bayangkan selama ini tiba-tiba runtuh. Impianku mengenakan gaun yang aku suka, duduk di pelaminan di gedung yang megah. Dekorasi yang mewah. Buyar seketika. Ance' ingin pernikahanku diadakan sebagaimana adat yang dia pegang selama ini. Adat Sambas.

Saprahan adalah tradisi wajib yang selalu ada. Makan dengan mengelilingi makanan yang disajikan untuk enam orang, di lantai, tentu saja makannya dengan tangan. Aku malu mengadakan pernikahan seperti itu. Bagaimana dengan Andika? Apakah dia mau pernikahannya ternyata seperti itu? Suara tanjidor di mana-mana. Tanjidor? Alat musik kuno itu? Era digital begini masih ada orang yang menggunakan jasa tanjidor untuk menghibur orang yang hadir di pernikahan. Apa bagusnya?

“Ilana sudah menyiapkan semuanya Ce'. Gedung sudah disewa. Pakaian pengantin juga. Makanan juga disiapkan oleh koki pilihan kami. Tak perlu repot pake pasang tarup segala.”

Aku membayangkan duduk di pelaminan di tarup yang reot. Tarup, bangunan sementara yang dibuat memanjang dengan atap di atasnya sebagai tempat tamu undangan makan besaprah. Aku, yang kuliah sampai keluar negeri begini dipaksa mengikuti adat lama yang usang itu? Bagaimana caranya aku menunjukkan pada teman-temanku yang lain? Mereka yang sudah lahir sebagai manusia modern. Mau ditaruh di mana mukaku nanti? Gengsiku sebagai lulusan luar negeri dan bekerja di perusahaan besar akan hancur. Mereka akan menertawakanku. Imej yang selama ini kubangun akan musnah dalam satu hari saja. Kemudian, aku akan menjadi bahan ejekan di kantor.

Itu kalau aku masih bernasib baik melangsungkan pernikahan. Bagaimana dengan Andika sendiri? Aku curiga dia malah mundur dan membatalkan pernikahan karena tak mau mengikuti pernikahan yang akan dilangsungkan dalam adat Sambas.

“Ance' tahu Ilana, uangmu sekarang sudah banyak. Kamu tak butuh uang lagi dari Ance' untuk apa pun. Bahkan kopi yang sekarang Umakmu hidangkan ini menggunakan uangmu bukan?”

“Bukan begitu maksud Ilana. Ce'.”

Tiba-tiba aku tertusuk dengan segala ucapan Ance' yang pelan itu. Dia kemudian menyeruput kopi hitamnya tanpa menatapku. Pandangannya kosong ke langit-langit rumah.

“Jelaskan pada Ance', Ilana. Ance'-mu yang kolot dan tak sekolah ini.”

Mata laki-laki yang selama ini aku kenal sebagai laki-laki keras dan kuat itu berembun. Inilah saat-saat yang tak pernah aku inginkan. Aku tak mau membuatnya menangis. Ance' harus selalu tersenyum dan bangga melihat semua kesuksesanku. Aku berhasil kuliah sampai S3. Bekerja di perusahaan besar di Jakarta. Mendapatkan pendamping yang sepadan. Kurang apa lagi?

“Apa bedanya sih Ce'? Mau adat Sambas atau modern?”

“Ance' tak mau ada kotak amal di pernikahan anak Ance'. Kamu tak perlu membuang uangmu untuk hal yang tak perlu.”

“Kotak amal?”

“Apa salahnya ikut adat Sambas dan orang ngantar pakatan?”

Baiklah sekarang Ance' menambah satu lagi daftar adat yang ingin aku tolak ada di dalam pernikahanku. Pakatan? Tidak, aku tak butuh orang lain membawakan ayam, beras, dan telur sehari sebelum pernikahanku. Belum lagi ada hari kecil dan hari besar. Hari kecil orang-orang akan mengantar ayam, beras, dan telur ke rumah pengantin. Banyak sekali orang yang akan berkumpul dan bekerja bergotong-royong membangun tarup, memasak, dan menyiapkan rumah pengantin. Banyak juga yang akan meminjamkan piringnya dengan suka rela untuk digunakan selama pesta pernikahan. Aku tak butuh itu semua.

“Ance' tahu, kamu banyak uang Ilana. Banyak sekali uang yang kamu miliki. Tapi uang bukan segalanya.”

“Ance' tak bisa memutuskan sesuka hati begini, Ilana yang akan menikah. Bukan Ance'.”

“Memang bukan, Ance' hanya menjadi walimu dan tanpa wali kamu tak akan bisa menikah sama sekali Ilana.”

Tiba-tiba Ance' berdiri dan meninggalkanku. Adzan berkumandang Ashar sesaat setelah dia bangkit. Kopinya masih tersisa setengah. Mengingatkanku pada masa kecil yang dulu. Setiap kali Ance' salat Ashar di surau belakang rumah, aku buru-buru mencicipi kopinya yang sudah dingin. Ance' yang tak pernah berbicara serius denganku, sekarang membuat perdebatan yang sangat panjang. Sebab aku tak ingin menuruti kemauannya.

Umak muncul dari pintu dapur. Menatapku dalam. Pasti banyak yang ingin dia katakan. Sayangnya perdebatanku dengan Ance' sudah terlampau panjang untuk ditambah dengan perdebatan yang lain. Dia tak bisa memilih untuk menuruti suaminya atau anak perempuan satu-satunya yang sudah dewasa.

“Minumlah...”

Perempuan itu mendekatkan dan meletakkan gelas kopi Ance' di dekatku. Kopi hitam itu sudah mulai dingin. Aku menggeleng pelan.

“Umak tahu betapa sulitnya menerima kemauan Ance'-mu. Umak hanya yakin, inilah permintaan pertama dan terakhirnya. Sebelumnya pernahkah dia meminta apa-apa?”

Umak memang benar, Ance' tak pernah sekalipun meminta apa-apa. Dia selalu mengiyakan apa yang Umak terima. Tapi dia harusnya mengerti posisi anaknya. Semuanya jadi serba salah begini.

“Untuk apa sih Mak adat pernikahan pake adat lama?”

“Ilana, dengan saprahan tak banyak makanan yang akan sia-sia. Semua orang sudah mendapatkan porsi masing-masing. Tarup juga penting buat menghemat biaya gedung. Tak perlu sewa gedung yang megah, uangnya akan lebih baik disimpan atau disedekahkan. Pakatan apalagi. Semua orang akan membawakan apa yang mereka punya untuk kita. Sama seperti yang Umak selama ini lakukan untuk pernikahan anak cucu mereka. Menuai apa yang telah kita tanam Ilana. Semua orang tidak hanya datang sebagai tamu, tapi mereka akan terlibat di dalamnya. Bergotong-royong. Bekerja sama membantu pernikahanmu nantinya.”

“Jadi Umak mendukung pilihan Ance'?”

Suaraku sedikit meninggi. Umak menggelengkan kepalanya pelan.

“Umak hanya menjelaskan alasan Ance'-mu memilih menggunakan adat Sambas, Nak. Jika kita mengikuti adat tersebut kita tak perlu memajang kotak amplop di dekat pelaminan. Pernikahan bukan acara komersil. Untuk apa kita meminta uang dari tamu yang datang?”

“Adat orang kota memang begitu, Mak. Tak perlu repot-repot acaranya sampai dua hari. Orang lain juga tak perlu sampai harus bantu-bantu memasak. Iya kalau masakannya enak.”

“Ilana, mau seperti apa pernikahanmu nantinya, Umak tetap akan hadir dan mendampingimu.”

Ucapan Umak membuatku terdiam. Aku berusaha mencerna semua hal yang lewat di dalam kepalaku.

“Minumlah supaya hatimu tenang.”

Kopi hitam di dalam gelas itu sekarang sudah benar-benar dingin. Aku meraihnya dan menenggaknya hingga tandas. Rasanya yang manis dan pahit membaur di lidah. Rasa kopi ini masih sama seperti dulu. Sama seperti waktu aku suka curi-curi minum saat Ance' pergi ke surau.

Aku masih duduk di kursi yang tadi ketika Ance' datang. Dia sudah selesai salat. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi yang bisa ditebak. Selalu seperti itu. Puluhan tahun dan aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya dia simpan di balik wajahnya itu.

“Ance' lihat ada mobil Andika di depan surau. Selesai salat Ashar, susul dia.”

Kabar yang Ance' sampaikan membuatku bergegas mengambil air wudhu di belakang rumah. Andika pasti ingin membicarakan masalah resepsi pernikahan kami. Padahal belum ada kata sepakat di antara Ance' dan aku. Bagaimana sekarang aku harus menjelaskannya pada Andika?

Aku melipat sajadah yang kugunakan untuk salat dan beranjak keluar. Sandal jepit terpasang di kakiku dan belum sempat aku melangkah lebih jauh Andika sudah berada di depanku. Dia tersenyum seperti biasanya. Tanpa tahu pernikahan kami berdua terancam batal. Aku tak mau membatalkan rencana resepsi itu dan mengikuti adat Sambas. Ance' sendiri juga sudah mantap tak mau mengikuti caraku. Keruntuhan yang sempurna. Padahal lamaran Andika adalah yang selama ini aku tunggu-tunggu.

“Maaf aku datang tiba-tiba, tak mengabarimu, Ilana. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan.”

“Aku juga ingin menyampaikan sesuatu.”

Aku menghela napas panjang. Tak bisa kubayangkan apa yang akan Andika pilih.

“Sebaiknya kita bicara di tempat lain, jangan di sini.”

Andika mengangguk.

“Pantai Sinam saja.”

Kami melangkah menuju jembatan tak jauh dari rumahku. Menuju warung kopi yang berdiri di sepanjang Pantai Sinam, Pemangkat. Kami sudah duduk di warung yang paling ujung. Tak banyak pengunjung yang datang ke sini. Dua minuman es kelapa muda pun sudah ada di meja. Namun berat bagiku mengatakan perdebatanku dengan Ance'.

“Apa yang ingin kamu sampaikan Ilana?”

“Sebaiknya kamu dulu, sepertinya penting sekali.”

“Orang tuaku tidak setuju dengan konsep pernikahan kita.”

Rasanya aku mendengar petir menyambar. Sekarang bukan hanya orang tuaku yang mempermasalahkan konsep pernikahan kami? Orang tua Andika juga. Kabar buruk apa lagi yang belum aku dengar hari ini?

“Bagus itu, karena itu artinya kita batal menikah.”

“Apa maksudmu Ilana?”

“Aku lelah Andika. Kita sudah membuat konsep ini berbulan-bulan sebelumnya. Semuanya sudah matang dan tak ada yang ingin mengikuti konsep yang sudah kita buat?”

“Bukannya kita tinggal ikuti saja konsep yang sudah mereka buat?”

“Kamu tahu, bukan hanya orang tuamu yang tak setuju dengan konsep pernikahan kita, tapi orang tuaku juga. Lebih menyebalkan lagi Umak menyebut konsep pernikahan modern itu seperti acara komersil. Ance' lebih parah lagi. Dia bilang tak perlu memajang kotak amal di pelaminan.”

“Gara-gara itu kamu ingin membatalkannya, Ilana?”

“Andika, kamu pikir gampang ya membuat konsep pernikahan? Sekarang sudah dekat dan orang tua kita dengan egoisnya menolak rencana kita.”

“Apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku, Ilana?”

“Jangan sekarang, Andika. Aku tak ingin berdebat lagi. Lebih baik kita pulang dan pikirkan baik-baik lagi soal pernikahan kita.”

“Menurutmu apa sih pernikahan itu?”

Aku tak menyahut dan melangkah meninggalkan Andika. Buru-buru dia meletakkan beberapa lembar uang untuk membayar minuman yang sama sekali tak kami sentuh. Dia mengejarku. Tak menahanku. Berdiri di sampingku mengikuti ke mana langkahku menuju.

“Ilana, pernikahan itu ibadah. Aku tak peduli dengan konsep apa pun. Buatku, bisa lancar mengucapkan ijab kabul itu sudah lebih dari cukup.”

Aku menghentikan langkahku dan menatap matanya dalam-dalam. Rasanya aku tak sanggup lagi menahan air mataku sendiri.

“Benarkah semua itu tak penting buatmu? Apa kamu tidak malu nantinya orang harus makan dengan cara saprahan di tarup pula. Belum lagi sehari sebelum kita menikah akan banyak orang yang datang untuk mengantar pakatan.”

“Ilana, jika menikah itu seperti salat, akankah kamu menunggu mukena kesukaanmu kering baru kamu salat atau menggunakan mukena yang mana saja asalkan bisa melaksanakan salat tepat pada waktunya?”

Aku terdiam. Andika membuatku kalah telak.

“Tapi bagaimana dengan keinginan orang tuamu?”

“Aku rasa mereka sudah sepakat dengan konsepnya.”

Aku mengikuti tatapan mata Andika. Dari kejauhan aku melihat kedua orang tuanya yang sedang tertawa bersama kedua orang tuaku. Di dekat mereka ada kakek tua ketua tanjidor kampungku yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku tersenyum lega. Baiklah jika memang harus demikian konsepnya. Saprahan pun saprahanlah.... Paling penting aku bisa bersanding di pelaminan dengannya. Laki-laki ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers