Langsung ke konten utama

Perempuan



Perempuan itu harus kuat, karena tidak semuanya akan menemukan mertua yang baik.

Saya pikir ibu mertua yang memiliki pikiran kolot tidak akan semenyebalkan ibu mertua yang saya kenal. Saya pikir setidaknya ada sedikit upgrade jika mereka banyak mendapatkan informasi. Tapi ada jenis mertua yang memang dicetak untuk menjadi ibu mertua yang kolot-sekolotnya. Ibu mertua yang beranggapan bahwa menantu perempuan itu harus menjadi babu di rumahnya walaupun sang menantu sudah menghabiskan banyak uang untuknya. Bahkan disaat menantu yang lain tidak memberangkatkannya umroh, menantu yang dia anggap menantu pemalas, tetap ingin membayarkan perjalanannya ke tanah suci karena takut saat suaminya sudah punya banyak uang untuk menghajikan mertuanya, tapi fisik si ibu mertua tak lagi memungkinkan.

Saya pikir ketika seseorang sudah dijamin kehidupannya sehari-hari, makan tinggal sebut, mau belanja tinggal tunjuk, tidak akan berpikir untuk membabukan menantunya. Katakanlah misalnya saya jadi mertua dan punya menantu perempuan yang merupakan generasi smartphone. Kerjanya menggunakan smartphone dan cari uangnya juga lewat internet, masih pantaskah saya berharap dia akan bekerja sebagai babu di rumah saya? Padahal makan minum saya juga dibayarkan olehnya. Dari hasil kerja yang di mata mertuanya adalah 'bentuk kemalasan'?

Jangan samakan menantu dengan diri sendiri. Saat diri sendiri pernah jadi babu di rumah mertua coba tanyakan pada diri sendiri, apakah sudah menanggung hidup mertua, apakah sudah memberikan ATM tinggal gesek untuknya, apakah sudah memberangkatkan dia ke tanah suci.

Saya pikir dengan memberikan uang sudah akan cukup untuk menggantikan pekerjaan membabu. Ternyata lebih baik jadi menantu yang pelit uang, daripada pelit tenaga. Sekolot itulah mertua saya. Kamu dapat mertua yang seperti apa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma