Langsung ke konten utama

KOMENTAR YANG HARUS DISIMPAN SENDIRI





Sudah tidak kuat menahan diri ini untuk tidak menuliskan postingan ini. Beberapa komentar ini adalah komentar yang akan sering kita dengar saat kita sudah menikah dan juga punya anak. Terkadang tidak sadar komentar kita itu menyakiti orang lain walaupu menurut kita itu hal yang awam dilakukan banyak orang. Berarti awam banget ya orang menyakiti orang lain lewat komentarnya. Jangan sampai ada yang komentar di postingan ini dengan bilang "kalau tidak mau dikomentari jangan bersosial media". Jangan mentang-mentang berkomentar itu gratis kita seenaknya saja mengomentari hidup orang lain.

Berikut daftar komentar yang harus disimpan sendiri, kalau mau komentar menyakiti di mulut saja depan kaca, jangan disampaikan di sosial media di kolom komentar postingan yang bersangkutan. Kasihan kalau sampai ada yang tersakiti.

1. Kehamilan
Punya teman yang sudah menikah tapi belum hamil? Jangan dikomentarin macam-macam. Didoakan saja. Kasihan lho kita komentarin di sosial media banyak yang baca, bisa dibayangkan perasaannya?

2. BB Bayi
Saya baru sadar betapa banyaknya orang yang suka bertanya berat badan bayi. Saya sendiri sih rasanya tidak begitu penting tahu berat badan bayi milik orang lain yang terlihat sehat. Bertanya sih bukan masalah besar tapi terkadang ada lho yang suka kasih embel-embel kayak gini:

"Berat bayinya berapa? Kok kayaknya kecil ya?"

"Berat bayinya berapa? Kok gede banget kayaknya, banyak jahitan dong?"

Selama masih normal berat badannya memangnya apa urusannya ya? Jangan kasih embel-embel deh. Kalaupun lahiran normal dan harus dijahit ya sudahlah, yang merasakan sakitnya dijahit bukan kita, jangan tanya lagi "berapa jahitannya?". Sulitkah berkomentar "Alhamdulillah sudah lahir, semoga bayi dan ibu sehat terus ya." Adem kan baca komentar kayak gitu.

Kalau gatel mau komentar soal bayinya kecil atau gede ngobrol ke suami aja. Jangan disampaikan ke yang bersangkutan yang sudah berjuang melahirkan anaknya.

3. Normal VS SC
Dua-duanya butuh berjuangan. Sama-sama melahirkan. Jangan mengatakan "SC, enak dong nggak merasakan sakitnya pembukaan?". Mau normal atau SC sakit dua-duanya percaya deh. Dua-duanya ada sobekan. Kasih komentar isi doa aja. Gratis kok mendoakan orang lain.

4. Warna kulit bayi
Stop deh ngehina bayi orang, mau warnanya putih, sawo matang, atau hitam kelat sekalian pun, sudah berkah mereka dapat bayi yang sehat nggak kekurangan satu apa pun. Memangnya kulit putih lebih superior dari yang sawo matangkah?

5. Hidung
Ini anak saya dan juga ada beberapa teman juga saya lihat dapat komentar soal hidung anak. Bayi belum tahu apa-apa sudah dikata-katain soal fisik mereka. Percayalah bagi setiap ibu, anak mereka adalah bentuk paling sempurna. Mau hidungnya pesek atau mancung, yang paling penting adalah si bayi bisa bernapas tanpa masalah. Mungkin terdengar lucu ya bilang hidung si bayi pesek, tapi bagi si ibu belum tentu itu lucu. Bisa jadi komentar itu sudah melukai perasaan si ibu. Bilang saja "Lucu dedeknya ya."

6. Jenis kelamin
Kalau sudah punya anak laki-laki sebelumnya, bakalan banyak tu yang ngasih komentar "Nyari anak perempuan ya?" atau kalau sudah punya anak perempuan dapat komentarnya "Nyari anak laki-laki ya?". Seakan-akan wajib banget punya anak dua yang beda lawan jenis. Itu Allah punya kuasa. Mau apa pun jenis kelaminnya anak itu rezeki. Jangan tambah beban ibu harus bisa menentukan jenis kelamin si bayi. Kalau ternyata dapat yang beda lawan jenis dari yang pertama loloslah dari komentar yang nggak ngenakin. Akan banyak yang komentar "Wah sudah sepasang." Bagaimana yang dapat sama jenis kelaminnya dengan anak sulung? Jangan komentar kayak gini ya "Nambah 1 lagi biar lengkap dapat anak perempuan." Punya anak serezekinya saja. Sedapatnya semampunya. Bukan untuk memenuhi keinginan komentar di sosial media.


Ada yang mau nambahin soal komentar yang harusnya disimpan sendiri?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan