22 Februari 2018

Jika Pernikahan Hanya Soal Selangkangan





Pelakor sedang naik daun ya? Ah nggak juga sebenarnya, sejak lama pelakor sudah ada di mana-mana. Dengan beragam cerita dengan berbagai tipe wanita. Dari yang wajah pas-pasan sampai yang cantiknya nggak ketulungan. Nggak ada yang bisa menebak si A atau si B ternyata menjadi pelakor. Bahkan kawan karib sendiri bisa menjadi pelakor bagi sahabatnya sendiri. Nggak pandang bulu. Siapa saja bisa menjadi pelakor. Susah diprediksi. Intinya pandai-pandai menjaga diri jika sudah bersuami atau beristri.

Bedanya pelakor jaman dulu sama jaman now adalah yang jaman dulu masih terselamatkan dari viral di sosial media. Sekarang? Begitu ketahuan siap-siap menutup akun sosmed kalau tidak akan diserang banyak orang. Mulai dari yang memberikan nasihat sampai yang mencaci maki. Lengkap. Semua ada. Kalau dulu paling hanya diomongin sama orang sekitar aja yang tahu ceritanya. Bagi yang nggak ketahuan sudah ngerebut laki orang, misalnya pindah tempat tinggal dari tempat sebelumnya, ya bakalan aman.

Jadi pelakor itu apa? Banyak juga ternyata yang belum tahu pelakor itu apa. Pelakor itu kependekan dari perebut laki orang, walaupun sekarang banyak yang mlesetin jadi perebut lauk orang atau perebut lapak orang. Biasanya bapak-bapak yang kurang update soal singkatan jaman now. Kalau sudah tahu pelakor itu apa biasanya banyak tuh yang suka bijak ngasih nasihat. Kadang nasihatnya nyebelin banget. Walaupun saya bukan korban tapi pas baca sakit hati juga dibuatnya. Seakan-akan suami bisa diambil perempuan lain itu disebabkan oleh kesalahan istri sepenuhnya.

Pernah lihat istri yang sepertinya sempurna tapi suaminya tetap main perempuan lain juga? Atau lihat istri yang kayaknya nggak tahu diri tapi suaminya anteng-anteng aja jadi suami yang setia. Jadi salahnya di mana?

Pernah baca ada orang yang komentar kayak gini?

"Coba istrinya introspeksi diri, mengapa suami bisa cari perempuan lain?"

Hey….

Mau bagaimana tak sempurnanya istri bukan begitu cara suami memperlakukannya. Suami bisa kok ceraikan istri baru cari istri yang baru, mau dijadikan hobi kawin-cerai ya silakan, tapi bukan dengan selingkuh sana-sini. Atau mau nambah istri lagi karena nggak puas dengan satu perempuan? Ya silakan juga. Poligami itu sunnah nabi tapi selingkuh di belakang istri itu sama sekali bukan. Kita yang sudah menikah harus tahu mana yang benar dan keliru.

Apakah ada istri atau suami yang sempurna? Mau setinggi apa pun iman seseorang tetap ada kekurangannya di mata pasangan. Setiap dari kita punya sifat baik dan buruk. Apalagi kalau yang dijadikan patokan untuk "introspeksi" netizen adalah soal pelayanan istri di ranjang.

Banyak banget bapak-bapak terutama yang mengomentari bahwa adanya pelakor itu karena kekurangan istri dalam melayani suami di ranjang. Kurang goyang lantas boleh cari perempuan lain buat ditiduri? Aduhai semudah itukah? Sesederhana itukah persoalan pernikahan? Apakah semuanya hanya soal ranjang? Apakah kita butuh melakukan hubungan suami istri setiap hari? Yakin kuat setiap hari melakukannya? Apalagi kalau suami yang sibuk kerja atau buat pasangan yang masih punya bayi yang tentu saja akan mengurangi jatah tidur malam kedua orang tuanya.


Pernikahan lebih kompleks dan selangkangan adalah bagian kecil dari semua hal yang akan kita hadapi di dalam hubungan antara suami dan juga istri. Jangan mentang-mentang suami nggak puas sama istri lalu cari perempuan lain buat memuaskan. Apakah hidup hanya untuk memikirkan selangkangan? Ah saya kalau dikasih waktu luang sekarang ini lebih memilih untuk tidur dibandingkan ngurus selangkangan. Sebab waktu untuk tidur tak bisa saya beli sementara saya sering terjaga untuk menyusui bayi.

Mengintrospeksi diri, tanpa perlu diberi tahu pun saya yakin akan dilakukan oleh semua istri yang suaminya jatuh ke pelukan pelakor. Sebab kita sering suka menyalahkan diri sendiri.

"Mungkin aku kurang cantik?"

"Mungkin aku kurang memuaskan suami."

"Mungkin aku tak pinter masak."

"Mungkin aku bau bawang."

"Mungkin aku tak pinter dandan."

Masih banyak lagi cara yang para istri lakukan untuk menyalahkan dirinya sendiri ketika melakukan yang disarankan orang-orang yang belum jadi korban pelakor di rumah tangganya. Introspeksi diri. Sudah menjadi korban masih saja tetap harus mengintrospeksi diri. Padahal mereka sudah disakiti, ditambah lagi dengan luka yang baru. Berdamai dengan diri sendiri itu sulit. Memaafkan diri sendiri apalagi. Istri akan terus menyalahkan dirinya saat suaminya berpindah hati.

Kalau pernikahan hanya soal selangkangan sudah banyak pasangan yang berpisah di muka bumi ini. Tapi kakek dan nenek saya terpisahkan oleh maut. Padahal sudah lama sekali mereka tidak tidur seranjang. Sejak nenek menopause otomatis persoalan selangkangan pun selesai. Tak ada lagi cerita ranjang yang akan mereka lakonkan. Lantas apakah kakek saya cari istri baru untuk memuaskan hasratnya? Ternyata tidak. Dia tetap jadi suami yang setia sampai akhirnya maut menjemputnya lebih dulu.

Banyak juga suami yang main sama pelakor di saat istrinya hamil atau melahirkan. Mencari selangkangan di luar rumah. Namun bukannya masih banyak suami lain yang istrinya hamil dan juga melahirkan tapi tetap bertahan. Malahan merawat istrinya sampai selesai nifas dan ikut bergadang ketika bayinya menangis. Masihkah ada yang ingin menekankan soal pernikahan itu tak lebih dari seputar selangkangan?

Terlalu cetek jika kita memikirkan selangkangan makanya kita jadi menikah. Menikah itu mencari teman hidup untuk menua bersama. Menjadi imam dan makmum untuk mendekati pintu surga. Membangun cinta sejati lewat anak-anak yang akan hadir di dalam rumah tangga. Pernikahan bukan hanya soal selangkangan. Banyak hal yang akan ada di dalam pernikahan itu. Hal-hal yang bisa jadi akan menguatkan pernikahan atau malah menghancurkannya. Jangan heran saat ada orang pacaran 10 tahun kemudian menikah dan dalam hitungan bulan pernikahannya berantakan.

Sebab dasar pernikahan bukan hanya cerita asmara antara "aku cinta dia" yang membabi-buta. Jadi saat pelakor bilang "kami sudah saling mencintai" yakin akan bertahan selamanya? Apalagi kalau cintanya ternyata menyakiti pasangan sah si suami. Bukan begitu caranya mencintai orang lain. Suami orang pula. Bukankah cinta tak perlu saling memiliki? Apalagi sampai melukai pecinta yang lain. Kalau memang ingin jadi istri kedua ketiga atau keempat sekalipun bukan begitu caranya.

Bukan dengan mengajak suami orang ke hotel lalu saat ketahuan baru bilang cinta. Kalau cinta datangi istrinya dan minta baik-baik untuk menjadi madunya. Laki-laki itu sudah menjadi milik sang istri, sah secara agama dan negara. Jangan main serobot dan tikung saja.

Lalu apakah istri sah selalu benar?

Satu hal yang jelas benar, istri sah tidak mengkhianati pernikahannya. Itu saja. Itu sebabnya mengapa yang disalahkan adalah pelakor dan juga suaminya.

Untuk pelakor yang bilang cinta sama suami orang, kalau cinta bukan begitu caranya.




1 ✿ komentar ✿:

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design