Langsung ke konten utama

Menulis Terlalu Banyak Mikir




Sejak kapan ya saya menjadi diri saya yang sekarang? Orang yang terlalu banyak mikir ketika menulis. Mikirin panjang pendeknya postingan. Mikir bakalan muncul di mesin pencari atau enggak. Bagus atau tidak. Mau pake gambar apa? Banyak banget faktor yang saya pikirkan ketika akan menuliskan sebuah postingan di blog ini. Seakan-akan saya lupa bahwa saya menulis di blog ini untuk apa dulunya. Untuk diri saya sendiri. Bukan untuk siapa-siapa.

Entah mengapa saya punya banyak pikiran yang membuat saya sendiri tidak produktif seperti dulu. Memangnya tak boleh menghasilkan postingan curhat? Memangnya tidak boleh membuat tulisan yang pendek? Memangnya kalau tak muncul di mesin pencari itu salah? Saya memang kebanyakan mikir sampai akhirnya saya tak banyak menulis. Beda sekali dengan diri saya yang berada pada tahun 2013.

Saya menulis banyak waktu itu. Seakan tak pernah kehabisan ide. Tak pernah namanya writer's block atau tak punya apa-apa yang mau dijadikan tulisan. Harusnya saya menulis saja seperti dulu. Jangan kebanyakan mikir. Jangan memikirkan hal-hal di luar kendali saya. Menulis untuk menggantikan berbicara saja, sebab tak semua orang bisa mendengar.

Blog ini adalah penampung setia 'pembicaraan' saya yang tak bisa saya sampaikan secara lisan. Tulisan-tulisan inilah gantinya. Ada bagian kosong yang terisi dalam hidup saya. Namun manusia tak bisa memenuhinya sampai benar-benar genap. Ada bagian yang akan tetap lengang tak berjiwa. Menulis membuat jiwa lain bangun dan mengisi ruangan yang sepi itu.

Menulislah sayang, menulis saja jangan terlalu banyak mikir.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan