Langsung ke konten utama

Lapar Tengah Malam




Tidur sangat awal membuat saya lupa makan. Akhirnya pas terbangun tengah malam selain rasa haus yang menggila, saya juga lapar berat. Untungnya ada telur di kulkas. Tinggal bikin telur dadar dan saya bisa makan dengan tenang dan nanti bisa tidur kembali dengan nyenyak. Ngomong-ngomong soal telur dadar, saya ingat dengan suasana masa kecil saya dengan telur dadar tipis yang sudah dipotong rapi oleh Uwan.

Setiap orang sudah punya jatahnya masing-masing dan itu terbatas. Saya sampai merasa makan satu butir telur sendirian itu adalah sebuah pemborosan. Butuh waktu bagi saya untuk menjelaskan pada diri saya sendiri bahwa satu orang bisa makan satu telur atau dua telur kalau perlu saat makan. Sekarang saya biasanya bikin telur dadar menggunakan 2-3 telur untuk sendiri atau berdua.

Namun tetap saja saya rindu dengan masa-masa saya hanya bisa makan telur dadar setengah atau seperempat porsi. Karena di masa itu, saya masih berkumpul bersama Uwan dan Aki. Aki juga masih hidup kala itu. Masih bertani. Masih sering darah tinggi. Masih sering membuatkan mainan untuk saya.

Menyedihkan rasanya jika memgingat saya dulu ingin cepat-cepat dewasa dan besar. Lalu pergi dari rumah. Hidup mandiri di kota. Tak ingin bertahan di kampung bersama mereka. Kemudian malah merindukan masa-masa yang ingin saya lewati itu. Seandainya bisa kembali ke waktu itu, sebentar saja. Saya tak masalah bertemu dengan kakak saya yang menderita sibling rivalry akut itu. Saya akan terima jika dia menyiksa saya asalkan saya bisa memeluk Aki seperti dulu.

Sudah lewat semuanya. Saya tak bisa berada di masa itu lagi. Aki juga sudah tidak ada. Lucu ya, kita baru menyadari betapa pentingnya seseorang, saat dia sudah tak ada lagi di dunia ini.

Ah, saya lapar sekali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan