Langsung ke konten utama

Hey Miss Rebeka Hani Sunbanu, I Miss You!


Pertama kali menyandang gelar sebagai mahasiswi di STBA saya tidak banyak membayangkan kehidupan kampus yang menyenangkan. Saya hanya membayar hutang pada diri saya sendiri. Saya yang belasan tahun lalu memutuskan untuk kuliah di sana suatu hari nanti. Lalu batal karena status kampusnya swasta dan biayanya pasti mahal. Memang dibandingkan kampus saya sebelumnya STBA cukup mahal, sekitar 4-5 kali lipat dibandingkan SPP saya sebelumnya pada masa yang sama.

Setelah belasan tahun berlalu ternyata impian saya untuk kuliah di STBA, dulunya ABA, tak pernah padam. Keinginan itu hanya mengendap belasabn tahun kemudian muncul lagi beberapa tahun lalu. Sekitar empat tahun lalu sebenarnya saya sudah memendam keinginan untuk kuliah di sana. Sudah punya penghasilan sendiri dan saya pikir sudah waktunya saya melakukan apa yang saya inginkan sejak dulu.

Ingin kuliah lagi bukan sesuatu yang buruk bukan?

Sampai akhirnya saya memutuskan mendaftar dua tahun lalu. Tahun 2014 menjadi satu di antara banyak titik balik dalam hidup saya. Termasuk saya akan menjadi ibu pada tahun tersebut juga. Iya saya mengandung Raza saat saya mendaftarkan diri untuk kuliah di STBA. Kehamilan yang tak saya ketahui karena saya tidak merasakan tanda-tandanya sama sekali. Maklum sudah 8bulan menikah dan tak ada tanda-tanda berbadan dua membuat saya akhirnya mengambil keputusan untuk kuliah. Menambah ilmu buat perempuan sangat penting bukan?

Saya ingat betul pertama kali masuk STBA, saya sangat malu, merasa paling tua dan langsung duduk di bangku paling depan. Tak berani untuk berkenalan dengan siapa pun dan saya duduk di bangku yang sama setiap hari sampai pindah kelas pun saya masih duduk di posisi bangku yang sama. Depan, tengah, tak jauh dari meja dosen. Saya waktu itu tak berharap akan punya teman, tidak dapat musuh saja rasanya sudah senang sekali.

Bahasa Inggris saya cukup buruk waktu masuk STBA, sekarang alhamdulillah banyak sekali kemajuan yang saya dapatkan. Saya bersyukur memberanikan diri mengambil keputusan untuk kuliah lagi waktu itu. Tidak sia-sia saya belajar sangat keras untuk mengejar ketertinggalan saya selama ini. Iya, saya tertinggal belasan tahun untuk kuliah di STBA.

Kemudian hari itu muncul, entah kapan mahasiswi termuda di kelas saya tertarik untuk duduk di samping saya dan belajar bersama saya. Tak terasa sudah 2 tahun kuliah dan kami menjadi teman sangat dekat. Banyak hal yang kami bagi bersama. Saya bersyukur dia mau pindah duduk di depan dan berteman dengan saya. Tak terbayangkan akan punya teman seperti dia.

Sekarang sudah dua bulan kami tak berjumpa dan rasanya saya rindu sekali dengannya. Rebeka Hani Sunbanu, cepat kembali ke Pontianak, kita main jauh-jauh sama-sama. Seperti hari kuliah biasanya.



Mampir ke blognya di Sunbanu.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan