Langsung ke konten utama

Cerita Tentang Bawang (2)




Ini adalah bagian kedua dari potongan cerita masa kecil saya tentang bawang. Bawang merah dan putih. Di bagian sebelumnya saya sudah menceritakan tentang _pakattan_ yang tentu saja berkaitan erat dengan yang namanya pernikahan. Kalau sudah ada pernikahan akana ada pula yang namanya kenduri atau makan-makan. Di kampung saya makan-makannya dibagi menjadi dua hari. Hari kecil dan hari besar.

Pada hari kecil ini tamu akan makan makanan yang disediakan ala kadarnya. Lauknya ikan asin, sayur ubi, sayur labu, biasanya juga ada _cencalok_ yang memang merupakan makanan khas di tempat saya. Selain tradisi pakattan ada pula tradisi saprahan.

Saprahan di kampung saya adalah acara makan bersama dalam kelompok dan melantai. Biasanya satu saprah disediakan untuk enam orang. Enam piring untuk makan. Enam gelas air susu pandan. Orang yang makan besaprah akan berbagi lauk-pauk dan sayur-mayur yang disediakan oleh tuan rumah. Lauk-pauknya itu sumbernya sebagian dari pakattan. Termasuk nasi juga berasal dari pemberian orang yang diundang untuk acara kenduri tersebut alias _saro'an_.

Uwan (nenek) saya biasanya ikut membantu di dapur jika kenduri tersebut diadakan oleh keluarga dekat. Saya paling ingat acara kenduri di rumah Uwan Acik, masih sepupunya Aki (kakek, suaminya Uwan saya). Karena kami akan berjalan kaki ke sana lalu menginap satu malam sebelum hari besar.

Saya tidak terlalu ingat saya hadir di pernikahan siapa dulunya. Tapi saya sangat ingat bawang bakar yang saya makan di sana. Pada hari kecil orang dewasa akan sibuk menyiapkan lauk-pauk untuk esok hari. Terutama ayam yang harus dibersihkan dan disiapkan sebelum malam tiba. Malam harinya ayam sudah harus selesai diungkep dan bisa dimasak sesuai menu yang diinginkan tuan rumah.

Kami, anak-anak kecil, akan membawa tempurung kelapa dan berkerumun di dekat orang dewasa yang mengurus ayam. Rupa-rupa hati dan ampela ayam akan kami perebutkan. Setelah dapat akan kami masukkan dalam wadah tempurung kelapa. Dicuci bersih lalu diberi sedikit garam. Kemudian dibakar di tungku yang sedang menyala.

Iya, tungku tak akan berhenti menyala karena banyak sekali yang harus dimasak hari itu. Hati ayam dan ampela yang dibakar dengan bumbu garam sangat nikmat rasanya. Saya rindu sekali hari-hari masa kecil itu. Seandainya ada mesin waktu, ingin sekali saya kembali dan menemukan kenangan-kenangan yang sekarang tak bisa lagi saya dapatkan.

Berebutan dengan anak kecil lain, tentunya hati dan ampela yang saya dapatkan tidaklah banyak, sehingga biasanya Uwan Acik akan menambah menu yang bisa saya makan dengan bawang yang besar-besar. Bawang merah. Bawang putih. Dia akan memasukkannya ke bawah kuali, di bara api yang masih menyala dan membiarkan saya mengambilnya nanti ketika sudah matang.

Sudah pernahkah kamu makan bawang bakar? Itu nikmatnya luar biasa. Saya rindu sekali dengan bawang yang dibakar dengan tempurung kelapa. Suara-suara kaki anak-anak yang berlarian rasanya masih sangat terdengar jelas di telinga.

Saya rindu masa itu. Masa yang tak bisa saya kembalikan lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan