Langsung ke konten utama

Sibling Rivalry (Bagian 1)


Semuanya dimulai ketika saya baru lahir. Setidaknya itu yang saya tahu menjadi pemicu semua yang terjadi di dalam keluarga saya. Saya tidak menyesali menjadi diri saya yang sekarang. Harus mengalami sedemikian banyak hal yang menyakitkan. Sebab yang saya yakini adalah tak ada hidup yang sempurna. Tak ada orang yang bahagia jika tidak mensyukuri apa yang dia punya dan apa yang tak ada pada dirinya. Begitupun saya. Namun saya ingin berbagi kisah ini dengan cerita yang cukup panjang lebar. Untuk menemukan orang yang sama penderitaannya dengan saya. Menunjukkan pada mereka yang mungkin sampai sekarang bingung dengan apa yang terjadi di dalam hubungan keluarganya dan tak tahu harus bicara dengan siapa, saya juga ada di sini dan hanya bisa bicara banyak dengan blog saya.

Apa yang selama ini harus saya hadapi, sampai usia saya sekarang, masih terus berlangsung, cuma tidak seintens yang dulu karena saya sudah menikah, punya anak, dan keluarga sendiri. Sayangnya saya masih terlampau sering mengalami mimpi buruk. Terlalu buruk dan hampir setiap malam, saya bisa memimpikan orang yang sama berulang-ulang. Tidur menjadi sesuatu yang rasanya agak menakutkan untuk dinikmati.

Tiga puluh tahun lalu. Saya lahir dan hadir dalam kehidupannya. Dia yang seharusnya tak memiliki adik (ini pemikiran dia) dan tiba-tiba mendapatkan adik perempuan. Di awal tahun-tahun kami bersama dia tak pernah mau mengakui saya sebagai adik. Setiap orang menanyakan soal saya dia selalu menyatakan bahwa saya adalah anak pungut, adik angkat, anak suka A (suku yang tidak diterima lagi di daerah saya). Saya terlalu kecil untuk memahami penolakan yang dia berikan. Orang tua saya juga sangat awam untuk memahami bahwa ada bahaya besar yang menanti di dalam keluarga kami.

Sebagai adik saya sangat banyak mengalah. Mengalah pada banyak hal. Mengalah pada keadaan. Mengalah pada keegoisan kakak sulung saya. Menerima semua tamparan, jambakan, dan goresan pisau dari tangannya. Saya rasa, saya telah menyembuhkan luka fisik saya, tetapi luka di dalam jiwa saya masih menganga. Luka yang sampai sekarang tak pernah bisa saya sembuhnya. Sekuat apa pun saya mencoba. Sedalam apa pun saya menenggelamkan diri pada berbagai hal yang ada.

Saya masih terluka. Sakit. Berkubang dalam darah saya sendiri. Dia sendiri tak pernah kehabisan cara untuk melukai saya dan adik-adiknya yang lain. Tapi dari semua orang yang dia lukai, memang selalu saya yang menjadi sasaran yang paling dia incar.

Padahal setiap kali saya melihat foto masa kecil kami, saya tak melihat ada kebencian di sana. Saya rindu melihat senyumannya semasa dulu. Di saat dia menjadi cucu yang paling cantik dan pintar di keluarga kami. Saya rindu dia yang bangga dengan dirinya sendiri. Dirinya yang selalu menjadi teladan di sekolahnya karena selalu ranking. Saya rindu dengannya yang percaya diri di depan teman-temannya menyanyikan banyak lagu anak-anak.

Dia berbeda dan kami tidak menghadapi perbedaan itu sejak pertama. Saya, orang tua saya, kakek nenek saya, membiarkan perbedaan itu dan menuruti semua kemauannya. Itu yang membuat semuanya menjadi sangat buruk sekarang. Seburuk apa? Nanti saya cerita lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan