Langsung ke konten utama

Menulis Itu Bikin Waras!


Terkadang saya merasa tingkat ketidakwarasan saya turun naik. Saya merasa gila. Saya merasa orang lain normal dan saya tak biasa-biasa saja. Saya berharapnya saya bisa seperti orang lain. Lalu pada akhirnya saya sadar bahwa setiap orang punya sisi gelapnya masing-masing. Punya ketidaksempurnaan di dalam hidupnya. Sebab tak ada hidup yang sempurna. Pun hidup saya, Anda yang sedang membaca tulisan ini. Kita bukanlah mahluk yang sempurna dan tak perlu bersikeras untuk menjadi yang paling sempurna.

Di satu titik, saat saya merasa kegilaan saya sudah bercampur delusi tinggi dan mimpi buruk tanpa ujung. Saya akhirnya kembali ke papan ketik dan menulis lebih banyak. Lebih cepat. Menulis itu bikin saya waras. Rasanya. Proses menulis yang panjang, membuat saya menjadi lebih sadar akan dunia ini. Bahwa hidup itu indah. Bahwa hidup itu harus diteruskan. Bahwa hidup itu harus mengeluarkan sebanyak mungkin kata-kata yang saya suka, supaya saya tidak gila.

Menulis itu adalah terapi yang saya lakukan sejak kecil. Sejak saya mengerti bahwa saya dan keluarga saya berbeda. Walaupun tak ada keluarga yang sempurna, yang saya tahu, bahwa tak semua keluarga punya seorang saudara seperti kakak saya. Apakah saya marah karena punya kakak seperti dia? Dulu, lama sudah saya marah dengan keadaan. Dengan hal-hal yang tak bisa saya ubah. Takdir namanya. Nasib masih bisa saya usahakan. Tetapi takdir, bagaimana saya menjangkau masa di mana bahkan saya sendiri tak ada. Mengubah siapa nenek moyang saya atau setidaknya mengubah orang tua saya?

Terkadang saya ingin bercerita dengan orang lain. Sesama manusia. Setidaknya bukan suami saya. Dengan lebih banyak orang. Supaya lebih lega. Namun saya yakin, banyak yang tak akan percaya dengan cerita saya. Bahkan beberapa orang yang saya kenal sendiri pun menunjukkan ketidaktertarikan karena mereka ragu dengan kebenaran cerita tersebut. Nanti saya akan cerita dalam bentuk lisan. Bukan untuk membuat orang lain percaya bahwa hal tersebut nyata. Melainkan saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya 'didengarkan'.

Ada hal-hal yang tak terjangkau yang sekarang saya terima saja. Apakah saya menyerah dengan keadaan itu? Saya tak ingin menyerah, saya hanya mengambil langkah mundur sedikit lalu maju ke tempat lain. Karena saya lelah dengan banyak hal yang saya hadapi lebih dari 20 tahun ini. Semenjak saya lahir saya berhadapan dengan hal yang sama yang makin lama semakin besar. Salah siapa? Semuanya punya andil dalam membiarkan hal ini terus berlarut dan akhirnya membesar. Semakin besar semakin sulit dikendalikan dan akhirnya tinggal menunggu ledakan besarnya.

Saya hampir meledak terkadang. Takut memandang wajah sendiri di cermin. Rasanya wajah orang itu orang yang tak saya kenal. Dia begitu berbeda. Dia bukan saya. Dia orang yang penuh dengan ketakutan. Ketakutan yang sampai harus dia hadapi di alam mimpi sekalipun. Cerita ini akan sangat panjang. Cerita dimulai dari 30 tahun yang lalu. Saat saya baru lahir.

Tapi saya tak akan memperpanjang postingan ini.


Sumber gambar: http://kemandirianfinansial.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana.
Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai.
Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukannya akan disebut …

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha...


Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrsatu ya! 1. …

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan. 
Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya.
Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Termas…