Langsung ke konten utama

Virus Melanggar Aturan Itu Menular!



Tidak percaya? Coba lihat deh kalau ada orang yang menerobos lampu merah terus tiba-tiba ada yang menjadi pengikutnya. Ikutan nerobos juga. Saya nggak habis pikir sama orang yang melanggar aturan di jalan raya. Gini deh, aturan dibuat supaya kita tertiba dan lalu lintas menjadi lancar. Kalau aturan itu dilanggar, bukankah kita sedang merusak sistem? Kalau sistemnya rusak otomatis akan terjadi kekacauan. Tabrakan sampai berujung kematian.

Menyebalkan.

Setiap kali ada yang melanggar aturan berkendara saya hanya bisa memasang wajah sebal karena tak tahan melihatnya. Pengennya sih langsung negur tapi kadang posisi kita yang tak memungkinkan untuk melakukan itu. Belum lagi orang yang mau ditegur kayaknya anak alay yang masih di bawah umur. Untuk pelanggaran tidak menggunakan helm selama berkendara saya sih nggak terlalu peduli ya. Sebab itu urusan dirinya dengan kepalanya. Beda cerita kalau yang dia lakukan itu membahayakan nyawa orang lain. Semacam mengetak-ngetek HP selama mengendarai sepeda motor. Melanggar aturan belok atau langsung jalan saat lampu rambu-rambu masih merah.

Semakin ke sini semakin banyak sekali orang di Pontianak ini yang suka melanggar aturan. Penyebabnya macam-macam sih. Paling banyak menurut saya karena melihat contoh di sekitar. Satu orang melanggar yang lain jadi tertular dan ikutan melanggar sebab merasa rugi saat orang lain melanggar dan dia tertib. Nggak usah ngomongin dosa atau pahala-lah ya. Sayang nyawa nggak sih mereka itu?

Jangan-jangan mereka bekal 33 nyawa selama mengendarai sepeda motor di jalan raya. Pengendara yang mati karena kecelakaan berlalu-lintas banyak sekali jumlahnya di Indonesia. Angka yang masih tinggi. Tanpa bisa diprediksi umur berapa yang akan meninggal lebih dulu kalau sudah berkaitan dengan lakalantas ini. Kapan ya kita akan melihat Indonesia ini punya masyarakat yang lebih tertib. Setidaknya banyak yang lebih tertib dibandingkan yang masih suka melanggar aturan. Tak dapat saya bayangkan bagaimana nantinya saya harus mengajari anak saya untuk tertib di jalan saat mereka setiap hari melihat banyak orang terus melanggar aturan.

Kita adalah contoh bagi anak-anak kita. Sekarang kita dengan mudahnya menyepelekan aturan yang ada di jalan raya, tunggu waktunya anak kita yang menjadi pengendara. Apa yang akan mereka lakukan jika terbiasa diajari orang tuanya untuk tidak tertib. Mereka belajar dari contoh. Kita adalah teladan bagi mereka. Bisa jadi teladan yang baik bisa pula menjadi teladan paling buruk yang pernah mereka punya. Menyedihkan bukan?

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Negara kita tidak akan maju jika kita terus punya mental seperti ini. Egois dan tak peduli dengan orang lain. Jangan sibuk menyalahkan pemerintah yang membuat Indonesia lebih buruk jika kita sendiri masih suka membuang sampah sembarang. Masih menorobos lampu merah di jalan. Bahkan suka merokok di depan orang lain tanpa ada rasa malu padahal sudah mengganggu kenyamanan orang lain untuk bernapas.

Nah rokok ini juga satu masalah yang cukup besar jika dilakukan sambil berkendara. Banyak sekali perokok aktif yang suka merokok sambil bawa motor. Ini juga sangat mengherankan. Apa nikmatnya mereka merokok dengan banyak angin seperti itu? Bukannya malah lebih banyak angin yang meniup rokoknya dibandingkan mereka menghisapnya? Terus orang yang di belakang bisa jadi akan kena percikan apinya dari rokok tersebut.

Ah macam-macam saja yang terjadi di Pontianak ini. Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengetuk hati teman-teman yang setiap hari berkendara, yuk kita lebih tertib. Bukan hal yang sulit untuk dilakukan asal kita punya kemauan untuk melakukannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan