Langsung ke konten utama

Cerita Melahirkan (3)


Pada saat pembukaan ke 7-8 saya merasa itu adalah titik terlemah saya. Saya sudah nggak sanggup. Sudah nggak kuat lagi buat menanggung kontraksi yang bertubi-tubi. Beruntunglah yang kontraksinya tidak melalui obat perangsang. Kontraksinya bakalan lebih normal dibandingkan yang menggunakan obat seperti saya. Bahkan ada yang mengatakan diinduksi akan dua kali lebih sakit dibandingkan dengan kontraksi normal.

Padahal banyak yang tahu tentunya kontraksi melahirkan secara normal sudah cukup menyakitkan. Mau ditambah lagi dengan obat perangsang? Dan saya menyerah! Iya saya sudah teriak minta operasi. Untungnya bidan di ruangan bersalin menguatkan saya dan mengatakan bahwa saya bisa melahirkan secara normal asal bertahan sampai pembukaan selanjutnya. Sudah kepalang tanggung sih memang. Sudah sakit semalaman masak mau nyerah?

Tinggal sebentar lagi. Hari ini pasti berakhir. Hari ini pasti berakhir. Bakalan lewat kok dan saya bisa melewatinya. Hanya itu yang saya yakini. Saya menangis. Saya tertawa. Saya menelpon ibu saya. Banyak sekali yang terjadi hari itu. Suami saya semalaman menemani saya. Mengurut pinggang saya. Begitu juga mertua saya. Sampai akhirnya waktu itu tiba. Saat saya berteriak untuk ke sekian kalinya. Mengatakan akan menyerah saja, seorang bidan masuk dan membantu memecahkan ketuban saya.

Sudah pembukaan 9 dan ketuban belum pecah. Sampai akhirnya pembukaan sempurna. Saya sudah cukup tenang dan tiga kali menekan akhirnya Raza keluar dengan selamat. Sehat tak kurang satu apa pun. Saat itu rasa sakit yang harus saya tahan selama beberapa jam dibayar lunas dengan tangisan pertama kali Raza.

Dia menangis kencang dan saya ingin sekali bisa berdiri dan langsung menggendongnya. Sayangnya saya nggak kuat buat berdiri. Namun saya lega. Saya akhirnya melahirkannya lewat jalan yang seharusnya. Tidak perlu menjalani operasi caesar yang sangat menakutkan buat saya. Sejak awal saya hanya menyiapkan mental buat melahirkan secara normal. Tak membayangkan harus dibelah perutnya dan dijahit kembali.


Saya lapar sekali setelah melahirkan Raza. Saya hanya ingin makan lalu tidur dengan nyenyak. Cukup itu saja yang saya inginkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan