Langsung ke konten utama

Cerita Melahirkan (2)


Sebentar lagi usia Raza setahun. Tak terasa laki-laki kecil itu melewati tahun pertamanya dengan sangat baik. Alhamdulillah dia sangat sehat. Perkembangannya juga normal. Saya beruntung menjadi ibunya. Setiap pagi dialah yang akan membangunkan saya. Setiap kali saya patah semangat, saya melihat masa depan di matanya. Senyumannya menguatkan saya. Mau segimana pun banyaknya masalah dalam hidup ini rasanya nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang saya punya sekarang. Harta saya. Raza.

The best thing I ever had.

Dulu saya hanya bisa menulis surat untuknya. Tanpa pernah tahu dia bakalan kayak siapa. Sekarang saya sudha menggendongnya setiap hari. Tidur di sampingnya. Melihatnya tertawa. Padahal tahun lalu saya masih berada di rumah sakit menunggu jam-jam menuju kelahiran. Hari yang rasanya sangat panjang. Waktu itu saya hanya bisa bilang sama diri saya bahwa hari ini akan berakhir, hari ini akan berakhir. Begitu berulang-ulang sampai saya bisa meredakan sakit di perut saya.

Sakitnya kontraksi itu hilang datang sih sebenarnya. Kadang sakit terus menghilang. Lalu sakit lagi. Sampai akhirnya saya tertidur ketika sudah pembukaan 5. Malam hari sih jam 9 lewat gitu. Dokter memeriksa calon ibu yang berada di ruangan bersalin termasuk saya. Ternyata pembukaan saya berhenti dan saya dikasih pilihan buat induksi atau operasi. Gemetar sekali saya mendengar kata operasi.

Saya memang sudah pernah menjalani operasi sebelumnya tapi bukan membelah perut. Hanya bagian payudara dulu yang sempat di operasi. Tidak mengerikan seperti membayangkan operasi untuk melahirkan. Saya pilih induksi akhirnya. Dibandingkan harus operasi. Saya masih ingin mengeluarkan anak saya lewat jalur yang seharusnya. Melalui pintu bukan jendela. Kecuali memang sudah tidak memungkinkan lagi dan bahaya buat bayinya ya mau nggak mau saya berada di meja operasi.

Apalagi Raza sudah lewat banget dari prakiraan dokter masa kelahirannya. Dari semua versi tak ada yang benar. Semua dokter salah memperkirakannya begitu juga bidan. Waktu diberi obat untuk merangsang bayinya supaya keluar, saya tidak merasakan kesakitan yang berlebihan. Sakitnya awalnya pelan lalu makin kuat dan makin kuat. Nggak kayak kontraksi normal yang sebelumnya. Sudah tak mampu rasanya menahannya. Saya sampai bolak-balik dan tak mampu menahan bibir saya untuk mengeluh dan mengaduh. Duduk baring, duduk baring. Begitu semalaman sampai pagi.


Suami saya pasti lelah. Saya juga lelah sekali. Padahal saya masih butuh tenaga untuk mengeluarkan Raza. Tapi saya sudah terlalu kesakitan. Saya ingin menyerah. Sudah cukup. Operasi saja! Operasi saja! Operasi saja! Itu yang paling saya ingat pagi Selasa, hari itu. Saya sudah nggak kuat dengan kontraksi dari obat perangsang. Sudah terlalu menyakitkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan