Langsung ke konten utama

Alasan yang Tak Akan Pernah Habis


Banyak sekali alasan yang digunakan orang buat meraih sesuatu yang mereka percaya sebagai kesuksesan. Apa pun bentuknya. Sebab setiap orang punya variasi masing-masing untuk mengekspresikan kesuksesan. Walaupun pada umumnya banyak yang mengukur kesuksesan dari sudut pandang keuangan. Kebanyakan kita hidup memang berputar soal mencari uang bukan? Karena uang sangat memudahkan kita bertransaksi di dunia ini.

Alasan yang demikian disebut sebagai motivasi.

Berbanding terbalik dengan alasan yang membuat seseorang menjadi lebih mundur atau jalan di tempat saja keadaannya. Malah banyak juga di antara kita yang mengaminkan alasan tersebut sebagai penyebab kita tidak bisa meraih impian kita. Seberapa besarkah alasan tersebut untuk membuat kita akhirnya jatuh pada lubang yang lebih dalam. Lalu kita juga membenarkan alasan itu sebagai punca dari kegagalan kita. Benarkah?

Sekali lagi. Benarkah demikian?

Jangan-jangan kita terlampau banyak membuat alasan atau bahkan menemukannya untuk menghambat jalan hidup kita sendiri? Mudah sekali kok membuat alasan dalam hidup ini. Sangat mudah. Bahkan lebih mudah dari membalikkan telapak tangan kita. Semudah dan sesimpel itu. Untuk hal-hal yang sebenarnya tak perlu kita beri alasan yang terlalu dibuat-buat pun kita bisa menemukan jalan keluarnya. Pasti ada. Saya percaya bahwa setiap masalah akan menemukan jalan keluarnya masing-masing.

Seperti itu juga saat kita membangun sebuah bisnis. Akan ada banyak sekali orang yang menghambat jalan kita dengan berbagai alasan yang mereka temukan bahkan mereka bangun sendiri supaya kita juga terjebak dengan alasan mereka. Menularkan betapa alasan itu bisa membuat dunia ini kiamat. Betapa besarnya alasan itu sampai mereka rela terpuruk hidupnya hanya karena alasan-alasan itu.


Mudah sih kalo ngomong dengan berbagai alasan. Tapi untuk orang yang alasannya untuk maju lebih besar, terkadang alasan apa pun jadi terdengar nggak masuk akal saat itu berhadapan dengan kemunduran.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan