Langsung ke konten utama

Masihkah Kita Melabeli Anak-Anak Kita?

Perjalanan kehidupan akan mempertemukan kita akan banyak hal. Apalagi sekarang saya sudah menjadi orang tua. Harus belajar mengenai banyak hal. Terutama mengenai kesabaran. Satu hal yang tidak ingin saya lakukan, membuat anak-anak tertekan.

Tak terbayangkan saya berada di rumah yang semuanya menyalahkan saya. Orang dewasa yang mendikte. Tegas berbeda dengan keras. Orang tua selalu merasa mereka paling benar. Mereka paling tahu. Saya pernah menjadi anak-anak. Namun saya cukup beruntung tidak begiti banyak tekanan yang harus saya hadapi. Terutama Umak dan Abah yang tak banyak menuntut dan selalu membiarkan saya belajar sendiri.

Padahal saya bukan belajar, saya hanya menulis cerita. Meneruskan hobi saya.

Saya mengerti perasaan Garda, sebut saja namanya demikian. Dia suka sekali menggambar, bermain sepeda dan layang-layang. Dia sekolah saat usianya masih terlalu muda. Belum genap 11 tahun dia sudah duduk dibangku kelas 6 SD.

Apakah salah menyekolahkan anak terlalu muda? Kalau dia memang mau dan tidak terpaksa sah-sah aja kali ya? Saya bukan ahli di bidang ini sih.

Dia sangat rajin belajar karena ada jadwal belajar malam di rumahnya kecuali malam Minggu. Kadang saya kasihan dengan anak jam sekarang. Sekolah pagi, pulang hampir sore. Malam belajar lagi. Kalau anaknya suka sih nggak apa ya. Namun melihat Garda yang didikte dan dilabeli macam-macam saya jadi stress menghadapinya.

Orang tua, saya juga sudah menjadi orang tua, semestinya tak banyak menuntut. Saya bahagia dengan semua pencapaian Raza dan tidak suka melabelinya dengan macam-macam label yang jelek.

Anak itu sudah punya labelnya sejak lahir. Jangan mengubah labelnya karena perilaku yang dia perlihatkan.

Garda sering dibilang, kamu lemah di pelajaran ini, kamu begini, kamu itu begitu. Tak ada celah untuk dia mengelak. Dia lama-lama akan meyakini bahwa dirinya buruk dengan semua label yang diberikan orang tuanya. Hati saya sakit mendengar dikte untuknya.

Raza juga sering dilabeli orang di sekitarnya dengan label, nakal. Karena dia nggak bisa duduk diam. Dia selalu bergerak kesana-kemari. Saya kesal. Nanti akan saya berikan dia semua label yang baik agar dia tahu dia tidak seperti yang orang katakan.

Ranking di sekolah juga label yang cukup mengganggu. Kapan ya semua sekolah di Indonesia nggak menggunakan label?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan