Langsung ke konten utama

Mata Kuliah Etika Profesi (2)

 

Ini adalah lanjutan postingan beberapa minggu yang lalu yang ngebahas soal sebuah mata kuliah yang menjadi bahan postingan saya karena istimewa banget mata kuliah ini. Kami belajar untuk memiliki etika di dalam profesi yang kami miliki. Apa pun itu. Terutama juga belajar untuk beretika selama berada di dalam kelas untuk mata kuliah tersebut. Kabar baiknya, dosennya orang Sambas. Bakalan bisa lebih banyak ngobrol sama dia di luar kelas karena dia suka menggunakan bahasa Sambas. Yeay!

Nah sebelumnya sang dosen sudah memberikan sedikit tips untuk kami mengubah penampilan kami. Terutama soal sepatu. Aduh saya sudah nyaman sekali mengenakan sepatu yang biasanya saya gunakan setiap hari. Sepatu yang sama sekali bukan sepatu formal. Penuh dengan tali dan tak ada heelsnya.

Jadi Kamis kemarin saya mengganti sepatu saya dengan sepatu yang ada tumitnya. Itupun cuma 5cm tingginya. Nggak sanggup deh kalau harus lebih dari itu. Apalagi tulang pubis saya masih sakit setelah melahirkan Raza 4 bulan yang lalu. Jalan turun naik tangga aja kadang membuat saya nyeri. Mau nggak mau jalan pelan-pelan.

Pilihan sepatu yang disarankan sang dosen untuk rok adalah sepatu formal yang tidak tertutup seluruhnya sedangnya untuk boots lebih disarankan menggunakan celana. Saya sudah lama sekali tidak menggunakan celana di tempat umum. Jadinya pilihan saya tetap pake rok tapi nggak pake boots melainkan sepatu biasa dengan heels. Dilarang menggunakan kaos kaki. Rencananya sih mau beli stocking hitam supaya kaki tetap tertutup.

Kemarin saya menggunakan rok bunga-bunga, sementara dosennya menggunakan rok batik. Untung saya punya dress batik yang cukup formal yang bisa dikenakan untuk pertemuan berikutnya. Soalnya kalau pake kemeja dan rok saya kurang percaya diri dengan bagian perut saya. Sebab masih agak buncit. Maklum kemarin hamilnya gede banget. Sekarang mengecilkannya yang agak susah.

Pengennya sih banyak olah raga ya tapi waktu yang ada harus saya manfaatkan untuk hal yang lebih krusial kayak ngeblog atau memompa susu.

Walaupun sebenarnya ingin sekali mengembalikan perut ini kebentuk semula biar nggak keliatan buncit banget. Badan saya sekarang juga lebih gemuk dibandingkan sebelum hamil atau sebelum menikah. Walaupun terlihat kurus karena memang tulang saya kecil.

Tubuh dosen mata kuliah Etika Profesi ini bikin iri banget. Padahal dia melahirkan dua minggu aja jaraknya dengan saya tapi dia punya bodi memang singset dan kayak nggak pernah melahirkan gitu. Ahhh... jadi galau deh...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan