Langsung ke konten utama

I Thought You'd Never Ask

Sejuta cara kita lakukan untuk menemukan jawaban atas semua yang terjadi hingga hari ini. Lalu kita ternyata duduk di sini saling menatap dengan pandangan mata yang terlalu dalam. Selalu kamu katakan, hilangkan wajah sedih itu. Simpan. Jangan pernah tunjukkan.

Aku tak menunjukkannya hari ini.

"Apakah kamu mencintaiku?"

Pertanyaan yang sebenarnya akan menjadi berbeda rasa saat kamu tanyakan setidaknya dua tahun lalu. Ketika terakhir kali tangan kita masih saling menggenggam.

"Apakah masih perlu aku menjawabnya?"

Aku akhirnya menjawab sambil membuang pandanganku ke arah lain. Tak sanggup mengatakannya jika harus terus melihat matamu yang teduh itu. Mata telaga. Mata yang membuatku pernah tenggelam. Terlampau dalam. Tangan kita hari ini tak lagi saling terulur. Kamu begitu dekat. Tapi terasa sedemikian jauh.

Bolehkah kita kembali ke dua tahun belakang untuk membahas ini? Sebab rasanya percuma membahasnya sekarang.

"Aku hanya ingin tahu."

"Lantas apakah itu akan membuat perbedaan?"

Kamu tahu apa pun jawabanku tak akan memberikan perubahan yang berarti. Hidup kita akan terus berjalan. Sesuai yang kita pilih. Entah aku pernah masuk dalam pilihanmu atau tidak, kutak tahu dan rasanya tak lagi mau tahu.

"Kamu tak menungguku."

Aku tersenyum pahit. Menyembunyikan kesedihan yang menyiksaku sekarang. Tak adil rasanya kamu menimpakan semua kesalahan padaku. Aku menunggumu bertanya lebih dulu tepatnya.

"Apakah aku harus menunggumu?"

Kamu akhirnya tersenyum. Memamerkan sederet gigi indahmu. Senyum kecut yang baru pernah aku lihat.

"Aku memang bukan lelaki yang pantas untuk ditunggu."

"Kamu tahu keadaannya bukan seperti itu."

"Aku bahkan tak pernah tahu bagaimana keadaannya."

"Tapi kamu sebenarnya tahu bagaimana perasaanku sejak pertama kita bertemu hingga hari ini."

"Aku tak mendengarnya dari mulutmu. Sekadar tahu itu berbeda."

"Kita terlalu dewasa untuk menyatakan perasaan dengan kata-kata yang tersurat. Kita terlalu dewasa untuk tak memahami bahasa tubuh seseorang. Kita terlalu dewasa, Kanda."

"Tak bolehkah sesekali kita menjadi orang yang lebih berterus terang walaupun kita sudah cukup dewasa wahai Orang Cantik?"

Aku menarik napas panjang. Hingga rasanya seisi dunia terhirup ke dalam dadaku. Hari ini akan menjadi hari yang paling panjang dalam hidupku. Mungkin juga dalam hidupmu...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan