Langsung ke konten utama

Cerita Tentang Bantal


Saya termasuk orang yang bsia tidur tanpa bantal. Bahkan saya tak bisa tidur dengan memeluk guling. Berbanding terbalik dengan suami saya yang harus ada guling kalau mau tidur. Barangkali ini hanya masalah kebiasaan ya. Sebab saat saya masih kecil dulu di rumah Uwan tak ada bantal guling yang bisa saya peluk. Bahkan jumlah bantal terbatas. Setiap orang sudah punya bantalnya masing-masing dan saya selalu suka bantal yang lembek. Paling nggak bisa deh tidur dengan bantal yang keras. Mendingan saya tidurnya nggak pake bantal kalau memang tak ada yang lembek. Sering tidur tanpa bantal sih jadinya nggak masalah kalau nggak nemuin bantal. Bahkan waktu sering nginap di tempat keluarga Aki yang sedang ngadain acara pernikahan, saya terbiasa tidurnya di tikar aja.

Raza termasuk satu di antaranya yang bisa tidur tanpa bantal. Mirip saya. Saya juga nggak membiasakan dia pake bantal sih sebenarnya. Soalnya yang saya lihat di televisi anak bayi memang sebaiknya tidak menggunakan bantal ketika akan tidur. Khawatirnya menyebabkan pernapasannya tidak lancar dan berujung pada kematian.

Serem kan dengernye...

Jadinya sampai sekarang dia sudah terbiasa tidur tanpa bantal. Dia juga suka narik-nari bantalnya sampe nutupi wajahnya sih itu yang bikin saya semakin khawatir. Awalnya sih Raza punya 4 bantal bayi yang bisa dia gunakan untuk berbagai keperluan. Tapi karena sekarang semuanya sudah tahu dia tidak menggunakan bantal ya tak ada lagi yang menyiapkan bantal untuknya saat akan dibaringkan di tilam.

Soal bentuk kepala saya yakin akan membulat dengan sendirinya nantinya.

Jadi saat malam tiba saya akan menyingkirkan semua bantal setelah menemukan satu bantal lembek dan suami saya yang akan menguasai bantal yang tersisa. Saya hanya butuh satu sih. Nggak suka tidur dengan bantal yang ditumpuk, apalagi kalau sampai menggunakan bantal yang terlampau keras.

Pernah tuh saya tidur dengan bantal yang keras dan besoknya leher saya langsung sakit. Saya jadi heran dengan orang yang suka dengan bantal yang keras dan ternyata lehernya tidak mengalami sakit seperti yang saya alami.

Temen-teman sendiri suka bantal yang seperti apa? Sekarang sih sudah banyak sekali bentuk bantal yang ada di pasaran. Dari bentuk hewan, kartun, sampai buah-buahan. Saya masih suka yang bentuk konvensional aja sih. Buat tidur nggak perlu bantal yang lucu-lucu bentuknya hahahaha...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan