Langsung ke konten utama

Mengeluh di Sosial Media


Masih ngomongin soal sosial media yang sekarang ini memang sudah menjadi bagian hidup kita. Bukan sekadar penunjang lagi. Secara online, sosial media menjadi tempat untuk orang lain mengenal kita secara tak langsung dari tulisan yang kita posting atau juga dari foto yang kita bagikan.

Dulu saya sering kok mengeluh di sosial media. Sekarang sih sudah nggak pernah deh kayaknya mengeluh soal kehidupan pribadi. Pertama alasannya malu, tahu diri dengan umur yang sudah tak muda lagi. Apalagi di sosial media saya isinya juga bukan hanya teman-teman yang bisa jadi tempat bercerita melainkan juga berisi dosen atau guru saya sekolah dulu. Agak nggak sopan kayaknya menuhin status dengan keluhan melulu.

Keluhan juga bisa memberikan energi negatif buat sebagian orang yang membaca status yang kita buat. Tentunya tak ada orang yang ingin ketularan energi negatif bukan? Setiap orang ingin bahagia. Jangan sampai status yang kita buat malah membuat orang lain risau atau galau. Bisa jadi kan status yang kita bagikan seakan-akan mewakili perasaan orang lain. Ujung-ujungnya yang baca ikut-ikutan mengeluh.

Mengeluh di sosial media juga terlihat membuat kita ingin dikasihani oleh orang lain. Saat ada yang terganggu dengan kita yang 'memelas' di sosial media itu memberikan gangguan lo buat orang lain.

Jangan mentang-mentang yang punya akun adalah kita, jadi sah-sah saja buat kita menumpahkan apa pun di sana. Sosial media sama aja kayak kehidupan nyata. Punya aturan main. Kita mengganggu orang lho dengan status kita, apa pun isinya, nah minimalkan gangguan itu dengan energi yang positif. Sehingga orang lain yang membacanya nggak jadi negatif.

Saya jadi ingat dengan seorang teman yang sekarang sudah saya unfollow di facebook. Hampir setiap hari dia mengeluh di sosial media, seakan-akan dirinya adalah orang yang paling malang di dunia ini. Kayaknya dunia bakalan berakhir buat dia besok. Awalnya orang akan memahami saat tahu dia baru saja kehilangan orang tuanya. Tapi apa hanya dia di dunia ini yang kehilangan orang tua? Apa hanya dia yang butuh berjuang di dalam hidup?

Semua orang punya masalah dengan kehidupannya masing-masing. Jadinya agak menyebalkan saat kita tidak bersyukur dengan apa yang kita punya malah terus-menerus membagikan energi negatif dengan mencari perhatian banyak orang dan menunjukkan betapa kasihannya diri kita. Apakah menyenangkan dikasihani? Saya rasa lebih baik saya yang mengasihani orang lain daripada sebaliknya. Sebab tangan di atas selalu lebih baik dari yang ada di bawah.

Sosial media, adalah satu di antara banyak cara kita untuk berkomunikasi dengan orang lain menggunakan sarana yang kita punya, entah itu komputer atau smartphone. Manfaatkan dengan cara yang positif bukan hanya dengan keluhan yang memelas seperti itu. Mengingat sekarang ini yang kita cari pertama kali adalah gadget ketika bangun tidur, bukannya mematikan jam weker yang nyaring sekali bunyinya sejak sejam sebelumnya.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan