Langsung ke konten utama

Mengapa Harus Kuliah? Kan Bisa Les Bahasa Inggris!


Banyak sekali yang mengatakan hal seperti ini kepada saya. Iya sih memang kayaknya kuliah lebih ribet dibandingkan dengan les berbahasa Inggris. Apalagi kalau niatnya kayak saya, belajar bahasa Inggris untuk menunjang pekerjaan. Bukan karena mengejar ijazah atau titelnya untuk mendapatkan pekerjaan.

Namun setelah duduk lagi di bangku kuliah dan mengambil pendidikan di bidang yang selama ini saya inginkan, Bahasa Inggris, saya sangat menyadari bahwa keputusan saya tepat. Sebab kuliah itu jadwalnya jauh lebih padat dibandingkan les dan lebih banyak ilmu yang saya dapatkan. Apalagi bayaran les sekarang ini nggak jauh beda kok dengan biaya kuliah.

Selain itu dengan mendaftar sebagai mahasiswa di bangku perkuliahan, ada tanggung jawab di sana. Ada kehadiran yang harus dipenuhi. Jadwal ujian yang menanti. Belum lagi prilaku kita yang jauh lebih harus diatur saat menjadi mahasiswa. Banyak aturan yang harus dipatuhi.

Untungnya saya mengambil kesempatan buat kuliah. Sebab ternyata saya hamil dan melahirkan di dalam jadwal perkuliahan. Ada rasa sayang untuk melepaskan bangku kuliah demi menyusui anak. Beda cerita kalau les. Mudah saja berhenti dan langsung deh alih profesi menjadi ibu sepenuhnya. Bukan berarti saya tidak senang menjadi ibu yang punya waktu 24 jam di rumah bersama anak sih. Kuliah juga penting untuk menunjang saya mendidik anak saya nantinya. Apalagi waktu yang saya habiskan di kampus hanya sekitar 4 jam. Sisanya saya di rumah bersama anak saya.

Kuliah juga menyenangkan kok. Banyak teman-teman satu kelas yang akan berjuang bersama kita dari awal sampai akhir. Kemudian ada wisuda yang akan kita lalui bersama-sama. Bukankah itu akan menjadi kenangan yang sangat menyenangkan untuk dikenang ketika sudah menua nanti?

Intinya sih les sama kuliah tuh beda jauh. Saya sudah pernah les bahasa Inggris. Ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah dengan les beda sekali. Apalagi kuliah itu ada jadwal mata kuliahnya yang cukup padat. Menuntut kita untuk lebih banyak belajar. Beda dengan les yang lebih santai dan waktunya tak sepanjang perkuliahan.
 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan