Langsung ke konten utama

Cara Mendidik Anak yang Baik Sesuai Gendernya




Siapa orang tua yang tak ingin memiliki anak yang sholeh dan sholehah dan kelak menjadi orang yang sukses, semua tentu memiliki angan-angan tersebut. Hanya saja tak semua juga yang bisa memilikinya. Sebenarnya anak yang sholeh maupun sholehah tersebut bukan merupakan bawaan dari lahir, melainkan karena orang tuanya mendidik dengan tepat sehingga selain bisa beradaptasi dengan lingkungan ia juga bisa menjadi panutan yang baik untuk orang lain. Setiap dari orang tua pasti memiliki cara mendidik anak yang baik mereka masing-masing.

Ada yang mungkin sedikit menerapkan kekerasan, namun ada yang benar-benar sabar bergantung pada lingkungan dan pribadi masing-masing orang. Namun ternyata mendidik anak yang tepat juga harus melibat pada gender, mungkin kita sudah sering kali melihat perempuan yang kelakuannya seperti laki-laki, atau juga sebaliknya, hal ini tentunya salah dan tak sesuai dengan norma yang adadi masyarakat. Bagi yang memiliki anak perempuan dan tak ingin mereka menjadi pribadi yang tomboi berikut ini tips mendidik anak yang baik:

  1. Selalu menumbuhkan kesadaran dan bagaimana kodrat seorang wanita, wanita berbeda dengan pria baik itu dari cara berpakaian ataupun tingkah laku, jika ia mulai sudah memanjat pohon mulai katakan tidak, begitu juga dengan jenis permainan yang memang bukan dikhususkan untuk wanita.
  2. Ajari ia mengenai keterampilan rumah tangga, misalkan saja dengan membiasakan mereka untuk membantu ibunya di dapur atau juga membersihkan rumah, hal ini lama-kelamaan akan menjadi sebuah kebiasaan.
  3. Dandan tak masalah, akan jauh lebih baik untuk mengajari mereka berdandan, karena bagaimanapun seorang wanita memang wajib mengerti dunia berhias, hanya saja sesuaikan dengan usia.
  4. Orang tua juga harus membiasakan membelikan pakaian atau jenis mainan apapun yang memang dikhususkan untuk perempuan, dengan begitu mereka akan tau bahwa itu memang khusus untuk dia dan beberapa diantaranya tidak.

Tak hanya anak perempuan, anak laki-laki juga harus memiliki cara mendidik anak yang baik berbeda agar kelak menjadi sosok yang bisa dibanggakan.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan