Langsung ke konten utama

Buluh Perindu (2)



Kepada cinta yang tak sempat terucap. Kepada tangan yang tak sempat kugenggam. Kepada mata yang tak lagi bisa kutatap. Merindukah dirimu di sana. Apakah yang kamu rasa adalah sama? Atau ini hanya sebentuk luka yang semakin mengering. Luka yang ada tanpa keluhan derita? Karena cinta itu terlalu menggebu di antara deru jantung yang menggebu.

Iya kamu!

Suatu hari. Ingin rasanya bertemu kembali dan mengatakan. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih untuk semua rasa jatuh cinta yang hingga sekarang pun masih membara.

Tentang kamu!

Casanova yang terpuja, membuncahkan banyak aroma cinta. Entah bagaimana menyatakannya. Kepada kamu yang sebenarnya sudah tahu tapi menutup bibir dengan senyuman menggoda. Membalang rindu ini padamu. Ingin menghentikan waktu ke kala itu. Kala senyum kita bertemu. Saat mata kita masih saling mengunci.

Kamu, Kanda!

Masih ingatkah kamu? Perindu yang kamu tanam sekarang masih terus kujaga. Bukan untuk meminta buahnya. Rumit. Tak bisa kuterangkan dengan seribu purnama. Karena kamu lelaki bersayapkan embun yang terbang rendah menuju taman bunga hatiku yang tandus, kala itu. Tetesan embun yang kamu bawa menghidupkan hatiku yang kering, beku serupa tanah kosong yang tak lagi diinginkan sang petani.

Dirimu itu!

Membuat ketidakwarasanku bertambah. Antara gila dan jatuh cinta rasanya serupa saja. Sebab kamu ada di dalamnya. Aku rindu. Itu saja. Dadaku sesak, penuh oleh buih-buih rindu yang tak akan lama hilang lalu muncul kembali memenuhi anak sungai di dalam hatiku.

Penyebabnya kamu!

Kan kutagih janji pertemuan itu suatu hari nanti. Entah saat kita sudah menua dan menertawakan masa-masa kemarin itu dengan gusi yang sudah tak lagi ditumbuhi gigi-gigi. Waktu rambutmu tak lagi sehitam sekarang yang membuatku iri karena indahnya.

Rinduku, kamu!

Barangkali buatmu aku adalah sebuah buku cerita yang terbuka lebar. Kamu tinggal membacaku di halaman mana saja yang kamu suka lalu menutupnya saat kamu pergi. Tapi kamu lupa, hatiku terbuka terlampau lebar saat itu untukmu. Kemudian aku lupa menutupnya kembali dan membiarkan ada lubang rindu yang menganga di sana. Karena buluh perinduku, kamu.
 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan