Langsung ke konten utama

Ketika Baju-Baju Pesta Sudah Tak Muat


Saya baru menyadari banyak sekali dress yang saya simpan untuk acara khusus, entah itu undangan pernikahan atau apa gitu yang butuh dress yang elegan, tak lagi muat di tubuh saya. Tepatnya di perut. Sampai sesak napas dibuatnya saat mencoba memaksanya masuk. Saya pikir tidak akan sesusah itu mengenakannya karena yang berubah bentuk hanya bagian pinggul dan perut. Ternyata bagian atasnya memang longgar tetapi jangan harap saya bisa ke pesta dengan dress tersebut lagi. Untungnya saya sudah menyiapkan beberapa lembar gamis yang saya pesan dari seorang teman. Gamis yang memang cocok untuk ibu hamil dan menyusui.

Hampir setiap bulan yang saya lakukan hanya berbelanja pakaian. Karena memang itu yang paling saya butuhkan dibandingkan yang lainnya. Bagaimana tidak? Tubuh saya semakin melar bagian perutnya. Seakan-akan seperti balon yang ditiup. Buncit sekali. Padahal baru 8 bulan lebih sudah terlihat seperti sembilan bulan. Bahkan banyak yang memperkirakan saya akan melahirkan dalam hitungan hari. Posisi bayinya sendiri sih memang sudah menuju jalan lahir. Tetapi dokter mengatakan prakiraan kelahirannya itu 20 Mei. Semoga saja memang sekitar tanggal tersebut soalnya saya masih ingin ujian tengah semester sampai 13 Mei nanti.

Sekarang saya sudah tak terlalu peduli dengan fashion musti bagaimana. Paling penting buat saya sekarang adalah saya bisa mengenakan pakaian dengan nyaman dan tidak membuat saya sesak napas. Karena itu sangat menyiksa. Apalagi kalau di bagian perutnya itu terlalu pas dengan bentuk perut. Bisa-bisa saya kehabisan napas karena sesak.

Meskipun demikian yang harus saya lewati sekarang, saya berbahagia sekali akan menjadi seorang ibu. Apa pun risiko yang akan saya hadapi. Sesakit apa pun nantinya.
 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan