Langsung ke konten utama

Ngeblog Menyebabkan Kaki Membengkak


Merencanakan hari libur untuk menulis lebih banyak dan membayar segala jenis hutang di blog ternyata memang berimbas buruk pada kedua kaki saya sendiri. Selain kaki saya kesemutan karena terlalu lama dilipat, saya memilih duduk bersila untuk menghindari pembengkakan, kaki saya akhirnya juga mulai gatal-gatal karena akan segera membengkak, sebab saya kemudian mengubah posisi duduk saya. Kaki yang menjuntai ke bawah dan saya duduk di pinggir ranjang sambil mengetik membuat aliran darah ke kaki kurang lancar. Membengkaklah dia. Karena saya sedang hamil sih. Saya sendiri masih terus saja memaksakan diri untuk menulis.

Pengennya sih tengkurep tapi perut sudah seperti bola basket. Tak mungkin rasanya berada di posisi yang paling saya suka tersebut untuk menulis. Berselonjor juga kurang nyaman sebenarnya. Ah serba salah sekali. Tapi tangan saya masih kuat untuk menulis beberapa puluh postingan. Sebal sih rasanya. Semangat menulis ada. Ide juga masih banyak. Tapi kaki tak bisa diajak berkompromi. Perut sih jangan ditanya. Rasanya tak kuat duduk terlalu lama dengan perut sebuncit ini. Tak terbayangkan nanti saat perut saya sudah benar-benar ranum. Ketika sang kandungan sudah berusia 9 bulan dan siap untuk brojol.

Sayangnya suami hanya bisa diharapkan untuk memasukkan review jadi ke blog. Belum siap untuk menulis dia sepertinya. Apalagi dibandingkan keyboard dia lebih condong ke bantal kalau sudah berada di dalam kamar. Ya sudahlah. Saya masih punya dua bulan untuk mempersiapkan draft postingan. Semoga saja saya bisa menyiapkannya, setidaknya bisa melunasi semua hutang di blog saja sudah sangat alhamdulillah.

Kalau ada yang sekarang sedang hamil dan suka ngeblog seperti saya tak ada salahnya berbagi kiat supaya ngeblognya tidak membuat kaki bengkak. Soalnya saya ingin sekali bisa terus menulis tanpa meringis karena pembengkakannya membuat kaki saya gatal sekali. 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan