Langsung ke konten utama

Mengapa Malas Berpikir?


Kadang saya bingung dengan orang yang malas sekali berpikir dan lebih suka meminta jawaban tanpa perlu berpikir lagi. Apakah sedemikian sulitnya untuk berpikir? Atau ada sesuatu hal yang memang tidak terkoneksi di dalam kepalanya sehingga ada yang berbeda darinya? Khusus untuk orang berkebutuhan khusus barangkali ini adalah hal yang bisa dimaklumi. Karena memang dia berbeda pada umumnya. Tapi bagaimana dengan orang yang sejatinya orang yang masuk kategori 'pada umumnya'? Tingkat kecerdasan bukan menjadi ukuranlah ya?

Jadi ingat dengan 'stupid fail status facebook'. Ternyata di akun facebook saya sendiri ada lho orang yang seperti ini. Orang yang malas untuk berpikir. Ceritanya sih sederhana. Saya mengunggah sebuah foto makanan yang saya tambah caption suka banget sama Chicken BBQ-nya. Logikanya, menurut saya pribadi, entah menurut orang lain ya, ketika seseorang mengatakan suka pada makanan tertentu itu artinya makanan tersebut enak atau sangat enak malahan. Jika pertanyaannya adalah berapa harga makanan tersebut saya maklum karena memang saya tdiak mencantumkan harga makanan tersebut sama sekali. Lalu pertanyaan yang absurd alias epic fail bagi saya adalah 'enak nggak?'.

Pengen balas 'menurut ngana?' dengan huruf kapital semua dan ditambah tanda seru yang banyak. Tapi ujung-ujungnya saya hanya menarik napas panjang dan meminta dia baca lagi caption foto tersebut untuk mendapatkan jawabannya sendiri. Bagian tambahan yang menyebalkannya lagi adalah dia bilang 'enak ya?'. Ya Allah, bagaimana saya tidak menuliskan 'otaknya dipake ya buat mikir'. Mengapa ada orang yang seperti ini di dunia yang luas? Komentar di akun facebook saya pula.

Bukan sekali dua kali dia mengajukan pertanyaan yang menunjukkan dia 'malas mikir' atau sebenarnya tidak nyambung dengan dunia yang sedang dia tinggali ya? Saya kurang paham juga sih. Tapi sejatinya itu adalah pertanyaan yang sama sekali tidak perlu diajukan apabila seseorang sudah jelas sekali menuliskan di keterangan statusnya atau foto yang dia unggah. Saya tidak tahu apakah dia akan membaca tulisan ini. Semoga saja dia membacanya dan memahami bahwa sesekali, gunakanlah otak yang ada itu untuk berpikir. Setidaknya kalau malas mikir jangan ditunjukkan di sosial media. 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan