Langsung ke konten utama

Roti Jambul

Ini adalah roti yang menemani langkah saya membesar. Roti kecil dengan jambul gula di atasnya. Dapat dipastikan yang disukai anak-anak adalah gulanya di bagian atas itu. Walaupun saya sendiri tetap makan bagian rotinya yang tak begitu manis. Tentu saja dibuat tak begitu manis karena bagian manisnya sudah ada di luar dan diberi berbagai warna yang menarik. Jangan tanya soal pewarnanya apakah berbahaya atau tidak, waktu kecil saya tak pernah memikirkan soal itu. Selama enak, ya masuk aja ke dalam mulut.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya merasakan gula manis di atas roti ini. Entah kapan waktu saya memakannya. Mengingatnya kembali mengingatkan saya tentang banyak hal. Tentang rambut saya yang tipis. Tentang saya yang suka mengenakan gaun dan berputar seperti pemain film Bollywood. Berharap bisa cepat membesar. Tubuh gendut dan pendek yang dengan mudah Aki gendong.

Banyak sekali hal yang akan muncul di dalam kepala hanya dengan sepotong roti jambul. Namun kenangan-kenangan itu tak akan bisa terulang kembali. Bahkan kenangan kemarin sudah tak bisa diulang kembali. Rasanya banyak sekali hal yang terlewatkan. Orang-orang di dalamnya juga menghilang satu demi satu.

Rindu tak bertepi. Entah berapa kali 'seandainya' yang akan saya habiskan hanya untuk mengembalikan semua yang saya miliki dulu. Semua yang saya serahkan demi masa depan yang saya genggam sekarang. Memang sih, untuk mendapatkan yang kita butuhkan, kita mau tak mau merelakan yang kita inginkan. Bukan menyerah begitu saja. Tapi menerima keadaan.

Roti jambul itu. Kenangan itu. Sudah lewat. Kalau ditanya lagi apakah saya akan membeli beberapa roti jambul untuk mengembalikan ingatan itu lebih kuat lagi di dalam kepala? Tidak. Tentu saja tidak. Saya rindu dengan diri saya di masa lalu namun roti-roti jambul itu tak akan bisa membukakan pintu masa dulu yang pernah saya tempati.

Sekarang sudah terlalu dewasa hanya untuk sekadar makan roti jambul.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan