Langsung ke konten utama

Ibu Mertua Terbaik di Dunia

Hari ini seperti biasa, pulang kuliah saya suka singgah ke rumah mertua. Numpang makan biasanya. Saya senang ibu mertua saya sudah nenek-nenek. Jadi lebih tua dari ibu saya belasan tahun dan lebih muda beberapa tahun dari nenek saya. Rasanya saya punya nenek pengganti. Selama ini saya memang lebih dekat dengan Uwan (nenek) saya di kampung yang telah membesarkan saya dari umur 2 tahun.

Selain mendapatkan suami yang sangat penyabar dan tidak merokok (lagi) saya juga mendapatkan tambahan keberuntungan. Seorang ibu mertua yang sangat baik. Selalu memasak yang enak. Selalu bertanya mengenai perut saya yang mudah kelaparan ini. Bisa memasak berbagai jenis makanan yang saya suka. Dia benar-benar seorang ibu yang saya butuhkan. Serupa dengan nenek yang selalu ada di rumah.

Tadi dia membuat bubur Asurah. Bubur yang macem-macem isinya. Ada kacang merah, ubi, kacang hijau, dan beras merah. Biasanya bubur Asurah ini dibuat dengan 10 bahan. Tapi sepertinya bubur kali ini bahannya tak sampai 10. Tetap enak dan saya tetap lancar makannya sampai semangkuk penuh.

Sekarang kehidupan saya tak lagi sepi seperti dulu. Sudah ada banyak orang yang mengisinya. Kakak-kakak ipar dan suami-suaminya yang menyenangkan. Belum lagi belasan keponakan dengan beragam cerita. Tapi di atas segalanya, ibu mertua saya adalah bagian terbaik setelah suami saya.
Alhamdulillah.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan