Langsung ke konten utama

Saya Tak Mengerti Ini


Pernah nggak teman-teman tiba-tiba baru kenal seseorang dan seseorang ini merasa penghasilan kita lumayan banget dan dikasih predikat ‘banyak uang’ sama dia lalu ujung-ujungnya dia bilang ‘traktir dong, kamu kan banyak uang’.

Setiap kali ada orang yang seperti ini saya jadi berpikir ulang buat berbagi sesuatu dengan dia. Orangnya suka minta gitu sih ya. Jadinya mau ngasih ada perasaan nggak ikhlas. Nggak tahu orang lain, saya sendiri adalah tipikal orang yang nggak suka dimintai sesuatu tapi bukan berarti nggak suka ngasih. Saya suka berbagi sesuatu tapi ke orang yang nggak minta apa-apa sama saya.

Orang ini, tidak hanya sekali itu melakukannya. Sekarang setiap kali bertemu dia selalu mengatakan yang sama. Walaupun diksinya beda tapi ya kesannya minta traktir gitu. Saya sendiri bingung, mengapa ada orang yang senang meminta ditraktir. Why?

Sebanyak apa sih yang akan kita dapat dengan meminta traktir? Bukannya lebih baik meminta pancing dibandingkan meminta ikannya? Harusnya minta ajarin gitu supaya bisa jadi ‘orang yang banyak uang’ menurut kaca mata dia. Sodara saya banyak. Kedua orang tua saya masih hidup. Nenek saya masih sehat. Ngapain gitu saya harus buang uang buat orang yang baru saya kenal beberapa hari dan suka minta traktir pula?

Well, apa nggak aneh sih sebenarnya meminta traktir ke orang yang baru kita kenal? Kalau berbagi okelah. Tapi khusus untuk meminta lebih dulum kayaknya a big no. Buat saya. Nggak tahu buat teman-teman sendiri. Apabila memang teman-teman merasa hal tersebut adalah hal yang biasa atau lumrah, sebaiknya pikirkan juga perasaan orang yang dimintai traktiran ini. Bagaimana ya rasanya diminta-mintai seperti itu? Kok rasanya kayak diperas?

Berlebihan?

Yah, setiap orang pasti punya caralah buat menanggapi situasi yang dia alami. Satu kalimat yang kamu ucapkan, walaupun kalimatnya sama tapi akan mengalami pemaknaan yang berbeda oleh beberapa orang yang mendengarnya. Karena latar belakang setiap orang tak sama.


Saya tak paham konsep pikiran orang yang merasa punya hak untuk minta traktir dengan orang yang ‘punya banyak uang’ dalam pemahaman yang dia punya.
 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan