Langsung ke konten utama

Mantan Itu Harus DiTambahkan Sebagai Teman Nggak Sih?


Pernah nggak sih kepikiran soal seseorang yang ada di masa lalu kita. Seseorang yang bukan kekasih halal kita sebenarnya. Orang yang sempat singgah dan membuat hari-hari kita indah, dulunya. Hanya dulu. Atau ada yang punya kenangan buruk dengan mantan? Setelah menikah pernah nggak sih kepikiran dengan mantan atau malah kepengen banget bisa ketemu mantan dan membuat dia merasa 'aku-nyesal-deh-mengkhianati-cintanya-dulu'. Have you ever feel that way?

Kalau memang pernah saya rasa bukan karena kamu belum move on dan masih berharap dia kembali. Bisa jadi kamu cuma pengen move on dengan hati yang puas karena telah mendapatkan takdir yang lebih menyenangkan. Ditinggalkan orang yang nggak layak seperti dia.

Dunia maya membuat dunia kita terlihat lebih kecil ya kan? Kita bisa saja melihat foto mantan tiba-tiba lewat di lini masa gara-gara kita dan dia punya teman bersama. Ada satu fotonya diunggah temannya dan ditag ke dia. Perempuan biasanya nggak bakalan bisa nahan diri untuk nggak ngeklik akun tersebut. Tara! Terbukalah semua kronologi, semua masa after-we-broke-up dengan mudah kita lihat satu demi satu. Apa yang terjadi dengannya setelah itu. Berubah menjadi laki-laki yang jauh lebih baik atau sama saja? Walaupun tetap ada bagian dari diri manusia yang tak akan bisa berubah, saya yakin ada bagian juga yang akan berubah.

Sudah ketemu akunnya, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan menambahkannya sebagai teman karena kita pikir you-got-to-see-me-now momennya ya sekarang ini.

Bahkan kadang pasti ada perempuan yang berharap bahwa suatu hari dia akan bertemu dengan lelaki itu kembali. Lelaki yang pernah membuat hatinya terluka dan mengecewakannya dalam keadaan lebih bahagia dan jauh lebih baik. Menjadi orang yang tak terbayangkan oleh laki-laki tersebut di masa lalu.

Mantan itu adalah anak tangga yang kita lewati untuk mendapatkan kekasih halal kita yang sebenarnya. Sudah lewat. Lupakan saja. Jika suatu hari nanti waktu mempertemukan, itu adalah momen untuk kita tersenyum dan menyapanya. Menunjukkan padanya bahwa you're fine without him. 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan