Langsung ke konten utama

Berhenti Menulis Sempurna


Berapa kali kamu menekan tombol delete saat menulis sebuah postingan buat blog? Hanya gara-gara pilihan kata yang kurang cerdas arsanya atau kalimatnya aneh? Saya lebih sering menekan tombol delete untuk memperbaiki kata yang typo sebab saya jarang membaca ulang tulisan yang saya buat. Sekarang saya lebih suka membiarkannya begitu saja. Kalau ada yang ingin saya tambahkan tinggal saya ketik saja. Menghapus banyak kata atau bahkan menghilangkan satu dua halaman bukan cara saya saat menulis. Apalagi kalau untuk postingan di blog.

Saya sudah lama sekali melupakan cara menulis yang sempurna. Saya pikir biarkan saja tulisannya seperti itu. Cukup selesai saja. Sebab tulisan sempurna tak akan pernah menjadi tulisan kalau tidak diselesaikan. Kadang itulah masalah kita sebagai penulis. Kita terlalu takut dengan ketidaksempurnaan. Rasanya kita harus menulis yang bagus baru bsia dipublikasikan. Coba deh baca tulisan orang lain. Banyak kok yang menulis banyak dan menulis sebagaimana yang mereka bisa. Bukan tulisan yang akan membuat orang berdecak kagum.

Sekadar memberi manfaat sudah lebih dari cukup untuk sebuah tulisan. Tidak buat orang lain tak mengapa. Paling penting tulisan itu telah memberikan manfaat buat kita. Bermanfaat buat menuhin blog. Kalau blog berbayar jarang diisi sayang juga kan. Mubazir. Hehehe...

Dulu saya pikir tulisan yang sempurna itu tulisan yang bisa membuat orang tertawa. Menghibur banyak orang. Mendapatkan banyak fans dengan menulis di blog karena kelucuan yang kita berikan. Ternyata saya bukanlah orang yang bisa sering menulis hal yang lucu. Saya lebih mudah menjadi orang yang lucu dibanding penulis yang lucu. Toh penulis lucu di luar sana sudah banyak. Tak ada salahnya menjadi penulis yang tidak lucu bukan? Walaupun kadang ada juga tulisan saya yang bisa membuat orang lain tertawa.

Entah tulisan ini lucu atau enggak saya kurang tahu. Kayaknya sih enggak ya....

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan