Langsung ke konten utama

Abah Itu...




Saya tak begitu dekat dengan Abah. Saya jarang bercakap-cakap dengannya. Tak banyak kenangan dengannya. Tapi kalau ada kenangan bersamanya, saya pasti akan sangat mengingatnya. Saya ingat dengan jelas kalau dia tak pernah memukul saya. Dia pernah marah tapi jarang sih. Dari banyak laki-laki di dunia ini, dia adalah laki-laki yang dulu rajin menyampul buku pelajaran saya waktu sekolah. Menggunakan koran bekas yang tidak dia jadikan kliping. Semua buku akan disampulnya dengan rapi.

Dia tak banyak bicara dengan saya walaupun sebenarnya Abah itu sangat ramah dan banyak bicara dengan orang lain.

Topik pembicaraan yang dia omongin memang kadang hal yang tak saya mengerti sih, jadi akan sangat tak nyambung kalau dia mengajak saya mengobrol. Dia bukan seperti orang tua pada umumnya yang dengan bangga disebut anak perempuan dengan kalimat 'He always be there for me'. Abah itu lebih pada 'He give me chance to stand alone for myself'. Dia percaya dengan anak perempuannya merantau sendirian. Bahkan saat akan menikah. Dia tak banyak menanyakan tentang laki-laki yang meminang saya itu. Dia menerimanya. Tanpa banyak cingcong.

Abah adalah laki-laki yang selalu memotong kuku tangan dan kaki saya dengan rapi saat masih kecil sampai SMP. Dia akan menyuruh saya duduk di lantai dengan isyaratnya. Ketika mata saya menatap poetong kuku di tangan kanannya saya tahu dia bermaksud memotong semua kuku saya. Dia tak pernah mengajarkan bahwa saya harus berkuku pendek. Tapi dia memotongnya dengan sabar satu demi satu.

Dia juga tak pernah merayakan ulang tahun saya. Tapi ketika saya akan menikah. Dia adalah orang yang ada di sana menangis dan menasihati saya. Dia bukanlah ayah yang sempurna. Dia hanya seorang ayah terkeren yang bisa saya punya. Tak ada gantinya.
 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan