Langsung ke konten utama

Tentang Segelas Kopi



Sudah lama sekali saya meninggalkan kebiasaan minum kopi saya di kampung dulu. Dulu waktu masih tinggal dengan Uwan (nenek) tiap pagi ada jatah kopi buat saya. Saya lupa sejak kelas berapa SD cairan putih yang encer itu berganti menjadi cairan hitam pekat yang juga encer. Memang sih tidak dibikinkan kopi seperti Aki yang pekat. Cuma ya itu, kopi itu kayak minuman wajib sejak saya kecil. Sampai kuliah saya masih minum kopi tiap hari. Satu dua gelas saat di rumah.

Di Sambas, perempuan minum kopi adalah hal yang sangat lumrah. Bahkan saya minum segelas kopi yang sudah mulai mendingin seperti orang menenggak air putih saat haus. Saya lupa kapan pertama kali memulainya, saya juga lupa kapan saya akhirnya berhenti menyediakan kopi buat diri sendiri. Satu hal yang jelas, saya tak lagi minum kopi beberapa tahun terakhir. Tidak minum setiap hari. Jadi kadang-kadang masih minum kopi.

Hari ini saya minum kopi sebelum memulai bekerja. Entah mengapa rasanya saya menjadi lebih konsentrasi dan lebih produktif setelah menghabiskan segelas kopi Manggarai yang dibawakan adik saya dari NTT.

Meskipun saya minum kopi saya tidak merokok. Saya hanya merasa agak aneh aja minum kopi di tempat umum di Pontianak ini. Banyak yang memandang saya dengan tatapan yang membingungkan. Ternyata beda dengan di Sambas yang rata-rata perempuannya minum kopi hitam pekat, di kota perempuan lebih identik dengan kopi dengan krimer dan sejenisnya jadi bukan kopi hitam yang tidak disaring itu.

Bukannya kopi itu baik ya buat kesehatan? Pernah dengar sih ada orang yang kayak ketergantungan gitu sama kopi. Tak bisa menjalani hari dengan baik kalau nggak minum kopi. Saya sendiri padahal dulu peminum kopi juga tapi nggak kecanduan juga sih. Bagaimana dengan kamu?

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan