Langsung ke konten utama

Dua Orang yang Saling Tak Menuntut

Ini adalah catatan kecil untuk aku, dan juga kamu yang sebenarnya tak pernah benar-benar membaca blog ini. Entah pernah atau tidak kamu membaca postingan di blog ini, satu postingan saja sampai selesai. Ah, suamiku, kamu memang lebih senang memilih bantal atau televisi untuk menemani istirahatmu sepulang kerja. Sesekali aku bolak-balik buka kulkas hanya untuk menyiapkan cemilan atau minum untukmu.

Ini catatan yang aku harap akan menguatkan saat pegangan tangan kita melemah satu sama lain. Suatu hari mungkin kita akan bertengkar hebat dan aku menyerah pada bantal. Setidaknya jangan sampai pernah tanganmu melayang ke pipiku. Sebab kamu pasti tahu betapa mudahnya aku rapuh dan jatuh karena satu pukulan telak.

Catatan ini, semoga masih kita ingat untuk membacanya kembali ketika kita membuat keputusan besar yang tak menyenangkan. Lebih berharap sih tak akan pernah ada keputusan seperti itu. Jangan sampai. Sebab inginku bisa menggenggam tanganmu sampai maut memisahkan kita.

Kita adalah dua orang yang tidak saling menuntut. Itu yang ingin selalu kuingat. Aku tak pernah memintamu untuk menjadi seorang suami yang hebat dengan penghasilan ratusan juta sebulan. Tak pernah kukatakan itu sejak pertama kita memutuskan untuk menikah saja setelah beberapa kali bertemu. Kamu juga tak pernah memintaku untuk menjadi istri yang sempurna dan bisa menyelesaikan tugas istri tanpa bantuan siapa pun.

Kita, aku dan kamu, kita akhirnya tak pernah menuntut apa-apa, melakukan tugas kita semampunya dan kemudian bersyukur untuk apa yang kita miliki. Aku memilikimu dan kamu memilikiku. Itu sudah lebih dari cukup di dunia ini untukku. Semoga juga untukmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan