Langsung ke konten utama

Altitude 3676 Karya Azzura Dayana: Sebuah Review Novel


Membaca novel seperti ini adalah tantangan buat saya. Seperti diminta memakan makanan yang bukan selera kita. Tetapi bukan berarti novel tersebut tidak bagus. Memang sejak awal genre novel ini bukanlah favorit saya, sebab sejak dulu saya lebih suka novel yang penuh misteri atau detektif bahkan pembunuhan. Jadi agak sulit menyelesaikannya sampai akhir. Mau tak mau selesai karena novel ini sering saya bawa ke mana-mana untuk mengisi waktu luang saat menunggu.

Cerita yang dihadirkan memang tak biasa. Saya tidak terlalu familiar dengan kisah seperti ini. Buat yang belum pernah baca tak ada salahnya menikmati novel ini. Sebab buat saya sendiri yang selama ini membaca buku traveling untuk mengenal sebuah tempat bisa menikmati sensasi traveling melalui sebuah novel. Saya rasa orang lain yang suka traveling harus menulis buku semacam ini. Jadi travelingnya terasa lebih hidup dengan penokohan di dalamnya dan konflik yang ikut serta. Walaupun saya sebenarnya tetap kurang suka penggunaan 'gue' atau 'elu'.

Jarang sekali saya suka membeli buku yang memuat 'gue-elu'-nya. Mengganggu. Buat saya. Walaupun harus dimaklumi itu sebagai penanda asal orang yang menggunakan 'gue-elu' tersebut saat berbicara dengan orang lain. Rasanya terlalu Jakarta sentris penggunaan 'gue-elu' dalam sebuah karya fiksi. Selain kurang sopan sih menurut saya. Setiap orang punya pendapat masing-masing ya soal ini. Sebagai orang Kalimantan yang tidak familiar menggunakan 'gue-elu' dalam percakapan sehari-hari tentu saja tak menyenangkan harus menemukannya dalam bentuk karya tulis.

Meskipun demikian saya menikmati membaca cerita di dalam novel ini terlepas dari penggunaan 'gue-elu'-nya. Sebab saya merasa dibawa bepergian ke tempat yang tak pernah saya datangi sebelumnya. Tempat yang cukup menarik dan dengan penokohan yang juga tak kalah menariknya. Novel ini mudah dipahami karena potongan alurnya tidak begitu kecil. Saya bisa menangkap alur ceritanya tanpa perlu membuka beberapa halaman sebelumnya dan mengulang membaca untuk tahu alur yang sebenarnya.

Saya menyelesaikannya agak lambat dari banyak novel yang lebih tebal dari ini. 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan