Langsung ke konten utama

A Stolen Life: Sebuah Review


Selalu suka dengan buku yang berisi kisah nyata. Apalagi cerita yang menyedihkan dan menguras air mata. Saya bisa membaca buku seperti ini berulang-ulang. Buku ini merupakan tulisan dari Jaycee Lee Dugard, yang mengisahkan bagaimana dirinya selama diculik saat masih kecil. Perlakuan yang diterima dari sang penculik dan bagaimana perasaannya. Saya tak dapat membayangkan disekap bertahun-tahun oleh orang yang menjadikan kita sebagai objek pelampiasan nafsunya. Bahasa di dalam buku ini sangat mudah dimengerti. Jadi siapa pun bisa memahaminya dengan mudah.

Hanya kita harus siap terluka setelah membacanya. Perasaan tercabik-cabik setelah menyelesaikan halaman demi halaman. Buku seperti ini sangat cocok untuk menimbulkan rasa syukur pada kehidupan kita yang tak perlu mengalami kekerasaan seksual seperti yang dialami penulis buku ini. Bahkan tidak hanya sekali. Berkali-kali selama bertahun-tahun. Walaupun kita pada akhirnya tahu penulis buku ini terbebas dari penyekap dan pemerkosanya, perasaan trauma yang dia alami akan sangat sulit untuk hilang.

Berbahagialah kita dengan segala kehidupan yang telah kita miliki sekarang. Sebab terkadang banyak sekali orang di luar sana yang rela membayar dengan nyawanya untuk berada di posisi kita dan tak mengalami apa yang telah dia alami sebelumnya. Menurut saya sih itu yang dirasakan oleh penulis A Stolen Life ini. Yap! Kehidupannya dirampok begitu saja. Kebebasan yang harusnya dia nikmati menghilang begitu saja.

Dia benar-benar orang yang sangat kuat karena masih bisa meneruskan kehidupannya dan menuliskan tentang kehidupannya sendiri untuk dibaca oleh orang lain. Itu pasti sangat menyakitkan. Membuka lembaran luka itu satu demi satu dan menjadikannya sebuah buku. Agar orang lain tahu tentang apa yang dia alami dan jangan sampai ada yang mengalami kejadian yang sama.
Buku ini memang cukup menyakitkan untuk diselesaikan. Namun pilihan untuk tidak menyelesaikannya jauh lebih berat dibandingkan menunda membaca bagian akhirnya. Bacalah buku yang seperti ini ketika kamu merasa jatuh. Merasa sendirian dan tak ada yang benar-benar peduli denganmu. Di luar sana, ada orang yang lebih suka tak dipedulikan atau diperhatikan oleh orang asal tak ada yang menculiknya dan menjadikannya orang yang berbeda setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan seksual tersebut.

Buku ini juga cocok untuk banyak orang tua yang barangkali suka lalai dengan keselamatan anaknya. Jangan sampai perhatian terhadap anak teralihkan dan dia dengan mudah diambil oleh orang lain. Apalagi sampai mengalami kejadian buruk seperti Jaycee Lee Dugard.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan