Langsung ke konten utama

Lampu Rambu-Rambu


Hujan turun semua pengendara terburu-buru
Kupikir aku yang keliru berhenti saat melihat lampu
Merah sebagai tanda meminta menunggu
Hanya tinggal aku
Pengendara lain terus berlalu
Bersabar menanti hijaunya lampu


Puisi ini adalah yang ada di dalam kepala saya saat mengendarai sepeda motor sepulang siaran tadi. Hujan melanda Pontianak dan rasanya tahun 2014 ini adalah tahun saya tak akan mengeluh dengan hujan yang turun. Namun saya memang jarang melewati simpang empat Jalan Dr. Wahidin sendirian. Biasanya bersama suami. Hari ini, tadi sore saya sendirian melewatinya.

Saya bingung. Semua kendaraan dari semua arah tiba-tiba melaju begitu saja. Saya yang melihat penanda lampu merah tertahan di Jalan Dr. Sutomo. Merah. Berkali-kali saya menatap pun lampunya merah. Tapi saya tak bisa menebak jalur mana yang lampunya hijau sebab empat jalur yang saya lihat banyak kendaraannya yang tetap jalan. Saling mendahului. Termasuk kendaraan yang searah dengan saya. Mereka terus saja jalan.

Hingga akhirnya lampu merah yang membuat saya menghentikan kendaraan berubah menjadi hijau. Saya melanjutkan perjalanan kembali. Berarti saya tidak keliru. Orang lain yang menerabas lampu merah. Tak mengikuti aturan. Padahal aturan dibuat untuk kita juga. Kita yang dapat manfaatnya.
Padahal tadinya saya pikir saya yang keliru karena memilih berhenti. Tak dapat dibayangkan jika saat saya menerabas lampu merah ada yang menabrak saya karena jalurnya sedang lampu hijau.
Gara-gara hujan semakin banyak yang menerabas. Sebab hari cerah pun ada yang tak patuh dengan rambu-rambu lalu lintas. Apalagi hujan. Sayangnya apa yang mereka hindari tidak akan melukai mereka. Benda yang jatuh dari langit itu air bukan pisau.

Tak terbayangkan jika gara-gara menghindari hujan malah terjadi kecelakaan. Paling tidak lecet yang akan diderita para korban.

Intinya sih sebenarnya apa sih susahnya mematuhi rambu-rambu lalu-lintas? Demi keselamatan kita juga kok. Bukan demi orang lain saja yang mungkin kita bahayakan dengan tindakan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan