Langsung ke konten utama

Antara Meminta dan Diberi


Sebenarnya sejak kecil saya selalu diajarkan oleh Umak (ibu saya) untuk berbagi dengan orang lain. Jadi ketika mendapatkan rezeki lebih dari yang diharapkan atau lebih dari cukup saya memang suka sekali membaginya dengan orang lain. Istilahnya kalau dapat sedikit ya baginya sedikit. Kalau dapat banyak maka banyaklah yang akan saya bagi dengan orang lain. Terutama saudara.

Tetapi anehnya di dalam diri saya ini adalah saya kurang suka diminta. Apalagi jika memintanya itu bagi saya tidak pantas dilakukan. Misalnya kita membuat sesuatu lalu sesuatu tersebut menghasilkan rezeki. Lalu tiba-tiba muncul orang-orang yang ingin meminta bagiannya. Walaupun hubungan sudah dekat atau katakanlah keluarga rasanya tetap tak pantas meminta jerih payah orang lain. Kecuali yang punya jerih payah itu anak atau ibu sendiri. Jadi kalau nantinya saya dapat rezeki tiba-tiba ibu saya meminta, bagi saya itu sangat wajar atau nanti saat sudah punya anak, anak saya yang meminta sesuatu bagi saya juga wajar. Termasuk suami. Namun di luar itu. Siapa pun orangnya rasanya kalau tak ikut andil dalam menyumbangkan pikiran atau tenaganya untuk sesuatu yang kita usahakan lalu kemudian meminta bagiannya, saya tak akan bisa menerimanya.

Meskipun sebenarnya saya akan memberikan, sejumlah yang saya ikhlas pada mereka, tetapi ketika sebelum kita sendiri memberikan sudah diminta. Itu entah mengapa merusak keinginan saya untuk berbagi lebih dengan orang-orang ini. Dimintai. Saya lebih suka memberi tanpa diminta sebab itu datang dari lubuk hati kita yang paling dalam. Kalau diminta sebelum memberi itu kesannya kita memberi karena terpaksa. Sebab diminta. Makanya kita mau memberi.

Syukur-syukur kalau mood saya sebelumnya untuk berbagi itu tidak rusak. Tapi bisa saja karena diminta saya jadi mengurungkan niat saya untuk membagi rezeki saya dengan orang yang meminta tersebut lalu membaginya dengan orang lain yang tak meminta. Jangan minta sesuatu dengan saya karena memang saya tidak suka diminta-mintai. Sebab peminta-minta itu biasanya ada di lampu merah sedang menadahkan mangkuknya menunggu kita menebarkan uang receh. Padahal kalau dia mau bisa jadi tanpa meminta orang dengan ikhlas memberikan rezeki untuknya yang membutuhkan. Jika memang dirinya benar-benar fakir miskin. Bahkan tak menutup kemungkinan rezeki yang dia terima dari pemberian orang akan jauh lebih banyak dari yang dia dapatkan dengan meminta-minta.


Ah semoga saja orang yang saya maksud membaca apa yang saya tuliskan di sini.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan