Langsung ke konten utama

Pada Akhirnya (Tentang Menulis)


Barangkali teman-teman banyak yang berharap tulisannya mendapat komentar dan dibaca banyak orang. Lebih menyenangkan lagi komentarnya berupa pujian yang manis. Tenang teman-teman tak sendirian. Saya juga pernah seperti itu. Berharap ada yang memberikan dorongan dalam bentuk komentar terhadap semua tulisan yang saya publikasikan di blog ini. Tetapi tentu saja tak semua komentar akan membuat kita nyaman. Ada komentar yang membuat kita down. Merasa tak semangat. Bahkan memutuskan untuk berhenti menulis. Takut menghadapi komentar berikutnya.

Tapi lama-kelamaan akan ada satu titik di mana kamu tak peduli dengan komentar apa pun. Mau komentarnya baik atau buruk. Mau memuji atau menghina akan ada satu bagian dari dirimu yang perlahan-lahan menutup telinga terhadap semua itu. Sebab melelahkan. Menerima pujian juga menakutkan. Takut kita terlalu senang dan lupa untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan menulis kita. Kalau menerima komentar takutnya kita jadi ciut dengan dunia tulis-menulis.

Ketika kita berada pada fase kita tak peduli lagi dan lebih memilih untuk terus menulis tanpa henti saat itulah kita menemukan diri kita yang sebenarnya. Bagian dari diri kita yang tak butuh dorongan atau kecaman dari siapa pun. Sebab menulis itu adalah keinginan kita. Kita ingin melakukannya. Mau dibilang bagus atau jelek biarkan saja. Setiap orang punya pendapat pribadi mengenai sebuah karya.

Masih ingat dengan cerita seorang ayah dan anak yang ingin menuju sebuah tempat tapi hanya punya keledai? Saat sang ayah yang naik dan anaknya yang menuntun keledai orang yang melihat mereka lewat berkomentar.

Ayahnya tak tahu diri ya? Anaknya dibiarkan berjalan kaki dan dia enak-enakan naik keledai.”

Mendengar hal tersebut sang ayah turun dan menaikkan anaknya ke keledai. Tak berapa lama ada lagi yang melihatnya dan berkomentar.

Anaknya durhaka sekali ya? Ayahnya dibiarkan berjalan kaki dan dia di atas keledai.”

Dua orang ini tentu saja bingung sebentar lalu memutuskan untuk naik ke atas punggung keledai dan merasa apa yang mereka lakukan sudah benar. Tapi ternyata masih ada yang komentar.

Kejam sekali ya mereka itu, sudah keledainya kecil malah dinaiki berdua.”

Mendengar hal tersebut, dua orang ini turun dan berjalan kaki bersama keledainya. Masih ada saja orang yang berkomentar.

Bodoh sekali mereka, punya keledai tapi jalan kaki.”

See, apa pun yang kita lakukan, dalam hal ini menulis, tetap ada orang yang menganggapnya salah. Apakah kita ingin seperti itu? Terlalu sibuk mendengarkan komentar orang dan pada akhirnya bingung apa yang harus dilakukan?


Suatu hari akan ada saatnya kita merasa tulisan kita sudah 'pas'. Bukan sempurna. Bukan 'waw'. Hanya 'pas'. Lalu komentar apa pun tak memberikan pengaruh bagi kita.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma