Langsung ke konten utama

Indonesia Memilih 2014?

Cornelis itu Gubernur Kalimantan Barat.

Foto oleh Arie Lai

Awalnya saya pikir kalo memang tak ada pilihan yang paling oke menurut jiwa dan hati saya, tak memilih akan jauh lebih baik. Tapi kemudian hati kecil saya di bagian paling dalam merasa saya harus melaksanakan kewajiban sebagai warga negara yang baik untuk tetap memilih satu orang yang menjadi calon pemimpin negara Indonesia yang tercinta ini. Jika benar-benar tak ada sedikit pun yang nyantol di hati saya rasa saya akan memilih yang tak begitu buruk dari sekumpulan calon yang buruk.


Truk terbalik? Itu biasa



Dulu hanya belasan jam, sekarang dua kali lipatnya.


Mau ke Malaysia? Lewat jalan seperti ini dulu.


Sebab kalau saya tak memilih lalu yang terburuk yang menang menjadi presiden berarti saya ikut andil dalam membiarkan negara ini dipimpin olehnya. Setidaknya jangan sampai orang-orang yang kita yakini tak bisa memimpin negara dan sibuk mempromosikan dirinya di media malah duduk di kursi yang banyak diinginkan orang itu. Bahkan anak-anak. Bayangkan. Banyak anak-anak yang sejak kecil sudah punya cita-cita jadi presiden. Coba cita-citanya seperti saya. Menulis. Cita-citanya jadi penulis. Melawan semua hal dengan pena. Sekarang sih dengan papan ketik ya?


Sebagai blogger kita bisa mempromosikan orang yang kita yakini tak begitu buruk untuk menjadi presiden dan membuat orang-orang yang mengakses media sosial terbuka pikirannya untuk memilih seseorang yang tak begitu buruk itu. Walaupun bukan yang terbaik. Karena hingga hari ini pun saya tak yakin dengan banyak calon yang akan masuk kancah peperangan suara itu.


Pasti banyak teman-teman yang sudah cukup muak dengan orang yang punya banyak uang dan sibuk menjadi bintang iklan dengan biaya sendiri. Tak perlu saya sebutkan. Sebab wajahnya ada setiap hari di televisi. Saya? Tentu saja muak. Berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk nampang itu? Mendingan jadi bintang iklan saja. Berbayar. Ini malah membayar. Di Indonesia sudah banyak orang cerdas yang tak bisa dibohongi dengan janji. Ini bukan jaman Soeharto yang semua orang bakalan memilih satu partai yang sama tanpa banyak tanya. Sedikit yang berani untuk memilih partai yang lain. Bahkan jumlah partai pun sangat sedikit. Sekarang? Saya bahkan tak hapal apa saja partai yang ada di Indonesia.


Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengetuk hati siapa saja di luar sana yang kebanyakan uang untuk beriklan sebagai caleg, mendingan datang ke wilayah timur Kalimantan Barat. Bantu pemerintahan di sini yang sudah tak mampu memperbaiki jalan negara yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia. Blogger jangan diam saja dengan keadaan yang ada di negara kita. Kita tembak mereka yang sibuk berjanji saat kampanye itu dengan ribuan karakter postingan kita. Bahkan jutaan kalau kita memang mau.


NB: Hingga hari ini, jalan menuju wilayah timur Kalimantan Barat sangat membahayakan dan terlalu sulit untuk dilewati. Kalimantan Barat sudah salah memilih pemimpin, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama. 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma