15 Desember 2013

Janji (8)


Masihkah kamu ingat hangatnya pelukanmu malam itu. Jemarimu bersentuhan dengan jemariku. Membuatku percaya mengenai cinta. Satu hal yang rasanya sudah kulupakan bagaimana rasanya. Sebab banyak kecewa yang mendera. Aku tak yakin ada bahagia di dalamnya. Luka terus merajam hatiku yang sudah remuk.

Kamu tak pernah mengatakan aku cantik. Tak ada pujian sama sekali seingatku. Tetapi tatapan matamu. Membuatku luluh. Lumer seperti es krim di padang pasir. Kubiarkan diriku mengalir ke bahumu. Menikmati semuanya tanpa suara. Aku yakin kamu tak tidur malam itu. Aku pasti mendengkur sedemikian kerasnya. Bahkan aku yakin gigiku gemerutuk. Kebiasaan saat tidur yang tak aku sadari.

Semalaman itu tak terjadi apa-apa. Aku terus berada di dalam dekapanmu yang hangat. Aku memang datang untuk bercerita. Bukan menginginkan dirimu seutuhnya. Kita belum menikah. Tak ada pikiran bahwa kita akan menunjukkan perasaan kita dengan cara yang berbeda.

Apa yang sudah terjadi jangan disesali.”


Aku selalu mengingat ucapanmu. Setiap kali aku melakukan kesalahan aku berusaha untuk tidak menyesal tetapi mengambil pelajaran dan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi. Untuk apa menyesal? Toh sudah terjadi. Itu katamu. Lalu bagaimana dengan janji kita? Apakah kamu menyesal tak memenuhinya sebelum dia datang memintaku untuk menikah dengannya?

Related Posts

Janji (8)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.