Langsung ke konten utama

Cerpen Atau Novel?


Honeylizious.com – Sejak dulu saya memang lebih suka menulis cerita yang lebih panjang. Lebih banyak konflik. Tentu saja dengan lebih banyak tokoh di dalamnya. Rasanya menulis novel itu bebas. Namun beberapa hari yang lalu, saat seorang dosen membaca cerpen 'Anak Dare Tue' yang sukses Juara 1 Tulis Nusantara 2013, ternyata dia punya saran yang berbeda mengenai apa yang harus saya tulis.

Terlepas dari lomba yang akan saya ikuti awal tahun depan, lomba menulis novel, beliau menyarankan saya menulis cerpen lebih banyak lagi. Sebagai latihan katanya. Sebab menulis novel butuh lebih banyak konflik yang membuat orang tidak bosan membacanya. Cerpen bisa mengasah kemampuan menulis saya supaya lebih fokus untuk menyelesaikan novel, itu masih pendapat beliau.

Padahal selama ini saya selalu kesulitan untuk membuat satu konflik di dalam cerpen dan membuatnya menjadi satu cerita yang 'menggigit'. Yup! Cerpen lebih pendek dan sempit. Kita tak bisa 'bebas' bergerak di dalamnya. Kalau memaksakan untuk menulis lebih panjang bisa-bisa kita akan membuat novelet. Novel mini yang ukurannya lebih panjang dari cerpen tetapi lebih pendek dari novel.


Dibandingkan mengikuti sarannya dan melupakan keinginan saya, saya pilih keduanya sekaligus. Ketika sedang ingin menulis cerpen saya akan menuliskan cerpen. Kalau banyak waktu luang dan ada lomba memang lebih baik menulis novel saja.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan