Langsung ke konten utama

Bunuh (2)


TIDAKKKK!”

Tubuh Rhea terguncang hebat. Keringatnya membasahi pakaian yang dia kenakan. Aku bisa melihat keringat itu keluar dari pori-pori di keningnya yang putih. Bulu-bulu halus di wajahnya juga banjir oleh keringat. Aku mendekap kepalanya di dadaku. Perlahan dia membuka matanya. Mata kami saling menatap dalam terang.

Aku bermimpi buruk lagi.”

Dia terisak. Aku menyeringai. Aku sudah menebak itu. Dia selalu mengalami mimpi buruk. Sedang aku menikmati ketakutan yang dia keluarkan setiap kali mimpi-mimpi itu muncul di dalam tidurnya. Aku sendiri tak pernah memimpikan hari naas itu. Aku mencoba mengingatnya dan memasukkannya ke dalam mimpi. Walaupun aku mengingatnya dengan sangat jelas. Tetap saja tak ada yang bisa aku mimpikan.

Gelap akan melindungimu.”

Aku takut.”

Tenang.”

Aku bergerak mendekati dinding lalu mematikan semua lampu di dalam kamar. Dalam kegelapan aku tetap tak kesulitan menemukan Rhea yang terbungkus selimut dengan tubuh bergetar. Getarannya masih sama seperti saat teriakan-teriakan bunuh itu terdengar. Gelap seperti ini menyenangkan.

Aku takut.”

Tenanglah. Ada aku di sini.”

Mereka akan datang membunuh kita Claudia.”

Tidak akan, mereka tak berani Rhea.”

Kegelapan menakutkan.”

Nikmatilah Rhea.”

Percayalah, kegelapan ini yang melindungi kita.”

Aku tidur dengan sangat nyenyak di dalam kegelapan ini hingga matahari yang terang membangunkanku. Dia menjamahku dengan cahaya yang menelusup lewat tirai jendela yang tertiup angin. Ah seharusnya jendela jangan ke arah timur. Selesai sudah bercintaku dengan semua kegelapan tadi malam. Aku tak menemukan Rhe di sampingku. Perlahan aku turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.

Kakiku yang baru saja menginjak lantai di luar kamar terasa dingin. Basah dan lengket. Aku menunduk dan memperhatikan telapak kakiku yang tergenang cairan berwarna merah. Seringaianku muncul tanpa aku minta. Mereka sudah datang. Mereka datang lagi menjemput nyawa-nyawa yang tak berlindung dalam kegelapan.

Rhea?”

Aku menemukannya terisak di lantai. Memegangi tangan kakak perempuannya yang sudah tak bernyawa.

Dia mati Claudia! Dia mati!”

Setiap yang hidup sudah pasti mati Rhea.”

Mereka membunuhnya.”


Aku tersenyum. Menyeringai. Mereka mendengar ketakutan di dalam kamar yang terang. Mereka membiarkanku yang berada di dalam kegelapan bersama Rhea.

Postingan populer dari blog ini

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan