Langsung ke konten utama

Peserta Gowes Asik-nya Menangis (2)


Baca dulu tulisan yang ini supaya lebih jelas.

Panitia menghitung tiga kali dan peserta yang seharusnya mendapatkan rumah tersebut memang tidak ada di lokasi. Disobeklah kertas undiannya dan panitia mencabut undi untuk kedua kalinya khusus untuk hadiah utama. Hadiah sepeda yang bejibun itu sudah lewat, demikian pula dengan kulkas-kulkas, ada yang satu pintu, ada yang dua pintu. Jangan tanya lagi televisi yang banyak sekali itu juga bukan menjadi milik Nurul sepupu saya yang pengen sekali ganti tivi di rumahnya. Maklum masih pake tivi tabung. Kompor gas aja tak dapat. Ahay... entah kenapa sulit memang mendapatkan hadiah dari undian seperti ini. Apalagi pesertanya banyak bo'.

Ternyata pemilik nomor undian yang kedua ditarik panitia itu ada orangnya. Wih semakin banyak yang kecewa dong. Tetapi ketika panitia mengatakan bahwa nomornya harus dalam keadaan aktif dan sudah membeli paket internet, banyak sekali yang mendoakan dia tidak memenuhi syarat tersebut. Apalagi ketika naik ke atas panggung dia membawa segepok kupon. Memang memiliki banyak kupon memungkinkan kita menang hadiah lebih besar. Tapi bagaimana ceritanya kalau itu malah membuat kita tak bisa memenuhi syarat yang diminta panitia?

Syarat yang sejak awal sudah dikabarkan panitia melalui kupon undian dan bahkan pembawa acaranya sudah berkoar-koar saat pagi-pagi acara digelar. Namun saya yang tadinya juga berharap dia tak memenuhi syarat tersebut jadi kasihan melihat pemilik kupon kedua hampir menangis di atas pentas. Dia bilang: “Tolonglah, Pak!”. Peraturan tetap peraturan bukan? Tak bisa dilanggar karena itu sama saja melanggar hak peserta lain yang sudah memenuhi persyaratan yang diberikan panitia.

Saat turun memang peserta tersebut menangis karena rumah yang seharusnya menjadi miliknya batal dan diserahkan pada pemilik kupon ketiga. Jadi panitia mencabut kupon satu kali lagi dan mendapatkan pemenangnya. Pelajaran hari ini adalah, kalau mau memperbesar kesempatan menang, jangan sampai kebanyakan kupon dan tak mengaktifkan semua kartu perdana yang diikutsertakan dalam undian. Kalau memang tidak sanggup mengaktifkannya semua ya jangan beli banyak-banyak dong.


Akhir kata, mengutip ucapan pembawa acara: “Kami sekeluarga mohon maaf ya Pak.”

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan