Langsung ke konten utama

Pengen Mesin Jahit


Sejak kecil sebenarnya sudah paham dengan cara menggunakan mesin jahit dan keinginan untuk menjadi penjahit untuk diri sendiri sudah menjadi keinginan yang lama sekali terpendam. Sekarang saat sudah menikah dan punya rumah sendiri kepikiran lagi soal menjahit sendiri model baju yang diinginkan. Belajar lagi cara membuat pola. Sebab sejak dulu saya belum pernah membuat pola. Saat membuat pakaian untuk mainan barbie, ya tanpa pola. Langsung jahit saja.

Hitung-hitung tabungan yang terkuras habis buat pernikahan dan honeymoon kemarin ternyata sayang rasanya menghabiskan lebih dari 2 juta untuk sebuah mesin jahit listrik. Walaupun mupeng sekali saat melihat Mami di Sintang menggunakan mesin jahit di rumahnya. Ah mesin jahit listrik lagi. Gampang sekali lagi penggunaannya.

Inginnya sih membuat dress dan rok sederhana untuk digunakan sehari-hari. Maklumlah biaya menjahit ke tukang jahit kadang lebih dari harga semeter bahan yang digunakan untuk pakaian tersebut. Walaupun kadang ujung-ujungnya ya tetap ke penjahit sih. Sebab tak ada mesin jahit di rumah. Belum lagi ingin membuat jilbab sendiri dengan bahan yang diinginkan. Kan banyak sekali tuh sekarang yang berkreasi dengan hijab-hijab satin atau katun. Beragam kreasinya. Ingin punya hijab yang tak dimiliki orang lain dengan panjang yang saya inginkan. Sebab kadang di Pontianak sulit menemukan hijab yang panjangnya sesuai dengan tutorial mengenakannya seperti yang saya temukan di internet.


Nah untuk membuat hijab yang lurus kayak pashmina kan tidak rumit. Tinggal jahit pinggirannya saja. Namun gimana ceritanya kalau tak punya mesin jahit? Ah pengen mesin jahit.

Postingan populer dari blog ini

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan