Langsung ke konten utama

Nikah Itu Ibadah


Barangkali akan ada orang yang berpikir: 'apakah tak akan menyesal menikah dengan orang yang barukita kenal?'. Atau akan ada yang berpendapat bahwa butuh lama untuk mengenali sifat seseorang. Setiap orang punya pendapat masing-masing mengenai hal tersebut. Pun demikian diri kita. Mau apa pun pendapat kita tak akan ada yang bisa meminta kita untuk mengubah pendapat tersebut dan memaksa kita untuk mempercayai pendapatnya.

Setiap orang punya caranya sendiri pula untuk menjalani kehidupannya yang cuma ada satu. Setelah itu kematian telah menantinya beserta kehidupan abadi yang akan diberikan untuk selamanya. Saat pertama kali memutuskan untuk menikah, saya hanya punya satu hal yang ingin saya lakukan. Yaitu beribadah.

Jika bicara soal ibadah, perempuan butuh mukena dan sajadah. Itu saat beribadah salat bentuknya. Apakah kita harus mengenakan mukena favorit kita dan sajadah paling indah untuk melakukannya? Atau kita mengenakan mukena yang mana saja yang ada di kamar, sajadah yang tidak sedang digunakan orang lain untuk melaksanakan salat tersebut? Kalau memang ingin salat kita tidak tepat waktu, lakukanlah dengan mengenakan mukena favorit kita dan tunggu sajadah paling indah yang kita punya di rumah sedang tidak digunakan siapa pun.

Tetapi kita tahu waktu salat tak akan menunggu kita selamanya. Waktunya hanya sementara dan akan berganti dengan waktu salat yang lain. Begitu pun dengan menikah. Tak perlu mencari orang yang akan membuat kita cinta mati sejak pandangan pertama. Bukankah cinta bisa tumbuh dengan sendirinya saat kita selalu bersama orang tersebut setiap waktu. Sejak dulu, saya selalu mengatakan bahwa saya bisa belajar untuk mencintai seseorang. Siapa pun dia.


Cinta pandangan pertama ternyata tak berlaku di dalam kehidupan saya. Sebab cinta butuh proses. Cinta tersebut akan lebih indah saat dipelajari di dalam pernikahan yang sudah menawarkan kehalalan. Ah sulit menjelaskannya mengenai jalan kehidupan masing-masing. Sebab setiap orang berbeda dan setiap orang punya caranya. Dan ini cara saya dalam memulai pernikahan. Sebab menikah adalah ibadah terbesar bagi saya. Tak peduli dengan siapa, selama dia juga siap untuk menikah dan melaksanakan ibadahnya, menggenapkan setengah dari agamanya. Itu saja.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan