Langsung ke konten utama

Kisah Sepasang High Heels


Selama ini memang saya berpikir bahwa high heels itu milik perempuan yang anggun dan cantik. Sedangkan saya sendiri tak merasa menjadi satu di antara bagian tersebut. Saya hanya perempuan biasa. Wajah biasa saja. Sehingga sejak dulu hingga sekarang saya tak berusaha untuk memiliki high heels. Apalagi berusaha mengenakannya untuk berjalan dengan anggunnya di atas dunia ini.

High heels itu rasanya bukan sahabat saya. Malah bisa dikatakan musuh. Saya selalu takut bahwa suatu hari nanti saya mengenakannya dan saya jatuh terjengkang. Kaki keseleo. Paling buruk lagi sepatu tersebut menusuk wajah saya. High heels terlihat begitu menakutkan. Dengan tumitnya yang runcing dan panjang.

Tetapi sekarang di dalam kotak seserahan ada sepasang high heels yang sebenarnya tak begitu tinggi ukurannya. Cukup mengancam saya yang lebih sering mengenakan sepatu flat. Memang menyenangkan mengenakan sepatu yang tebal dan datar. Rasanya kaki menjadi lebih aman. Berbeda dengan high heels. Tak bisa saya bayangkan saya mengenakan high heels saat mengendarai kendaraan bermotor. Lalu saya kepelecok. Bukankah itu akan sangat berbahaya bagi diri saya. Berbahaya buat orang lain juga.

Waktu jatuh dari motor beberapa minggu yang lalu pun sebenarnya saya sangat beruntung mengenakan sepatu lukis yang tebal. Sehingga kaki saya tidak terluka dan terlindungi dengan aman. Hanya bagian sepatu tersebut yang sedikit cacat. Dibandingkan kaki saya yang sobek. Akan jauh lebih baik sepatunya yang sobek. Hanya lutut yang kemudian binasa.

Tak terbayangkan bagaimana jika saat itu saya mengenakan high heels. Kaki saya tak terlindungi dengan sempurna. Lagi pula high heels menambah bahaya lain. Keseimbangan tubuh menjadi berkurang. Bisa-bisa membahayakan sekali saat dikenakan sambil berkendara.
  

Kamu punya kisah apa dengan high heels yang rasanya lebih cocok dikenakan orang yang mengendarai mobil dibandingkan sepeda motor seperti saya.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan